Bongkar Rahasia Bandar Saham: Mengapa Influencer Pensiun Dini dan Memilih Investasi sebagai End Game

Bongkar Rahasia Bandar Saham
Bongkar Rahasia Bandar Saham

Dalam sebuah diskusi terbuka, content creator yang kini beralih menjadi investor penuh waktu, Kevin Hendrawan, membeberkan filosofi radikalnya tentang karir, kekayaan, dan dinamika misterius di balik pasar saham.

Berbincang dengan Timothy Ronald, Kevin menjelaskan mengapa ia meninggalkan gemerlap dunia entertainment untuk fokus pada investasi, dan bagaimana ia menavigasi miskonsesepsi tentang “bandar” di Indonesia.

Investasi: Tujuan Akhir dari Segala Profesi

Bongkar Rahasia Bandar Saham
Bongkar Rahasia Bandar Saham

Kevin Hendrawan dikenal sebagai salah satu YouTuber teknologi dan otomotif terkemuka. Namun, ia selalu melihat dunia hiburan sebagai jalur karir yang memiliki batas waktu dan langit-langit (cap) yang jelas.

“Gua melihat bahwa entertainment itu ada mentoknya… sekaya-kayanya orang di YouTube mungkin lebih tajir yang punya YouTube. Gua harus melihat kayaknya ada plafonnya,” ungkap Kevin, menjelaskan alasan di balik transisinya.

Filosofi keuangannya sangat konservatif: menabung sebanyak-banyaknya dan hidup sehemat-hematnya. Tujuannya adalah untuk memaksimalkan modal yang bisa ditempatkan di pasar modal. Menurutnya, investasi bukan sekadar opsi sampingan, melainkan tujuan akhir dari setiap usaha.

“Kalau gua lihat-lihat I think investment adalah goal dari semua jenis pekerjaan dan semua bisnis ujung-ujungnya kan akan nyemplung di investasi kan,” tegasnya.

Kevin juga secara sengaja melewatkan “fase bisnis bangkrut” yang sering dialami oleh para influencer—yaitu mendirikan coffee shop atau bisnis fashion tanpa bekal operasional yang kuat. Ia lebih memilih aset yang dapat ia kelola dengan independen dan tanpa risiko reputasi.

Meluruskan Miskonsepsi: Siapa Sebenarnya “Bandar”?

Mengapa Cut Loss Adalah Jalan Tol Tercepat Menuju Kebebasan Finansial di Saham
Mengapa Cut Loss Adalah Jalan Tol Tercepat Menuju Kebebasan Finansial di Saham

Salah satu segmen paling menarik dalam perbincangan ini adalah pembahasan mengenai istilah “bandar” yang sudah terlanjur berkonotasi negatif di kalangan investor retail.

Baik Kevin maupun Timothy sepakat bahwa istilah tersebut harusnya diganti. Kevin lebih suka menyebutnya Liquidity Provider atau Market Mover.

“Intinya adalah ya menyetabilkan market. Justru kalau paling gampang itu kelihatan justru di crypto. Justru dengan adanya liquidity provider ini akhirnya bisa chart ini bentuknya lebih sehat,” jelas Kevin.

Peran liquidity provider adalah memastikan ada pembeli dan penjual di setiap harga, sehingga trading dapat berjalan. Miskonsepsi muncul karena di pasar Indonesia, data broker (seperti JP Morgan atau Credit Suisse) dapat dilihat, yang lantas dicap sebagai “bandar”. Padahal, siapa pun yang memiliki uang triliunan, bahkan investor institusi atau orang super kaya, akan berakhir membeli melalui broker-broker tersebut.

Kevin mengingatkan bahwa pergerakan harga saham sehari-hari, terutama untuk saham berkapitalisasi kecil, tidak ada hubungannya dengan fundamental. Harga dapat ditarik naik-turun oleh pihak dengan modal besar yang mengeringkan jumlah saham yang beredar (free float).

“Harga saham yang bergerak setiap hari itu kalau versi gua sendiri… itu tidak ada urusannya dengan fundamental,” ia memperingatkan.

Kungfu Investasi dan Senjata Rahasia AI

Dalam mencari jurus investasinya, Kevin menemukan bahwa tidak ada satu jurus pun yang bisa diandalkan secara terus-menerus.

“Style-nya adalah tidak ada satu jurus pun yang bisa dipakai berulang-ulang karena market is very dynamic,” katanya.

Ketika ukuran portofolionya membesar, ia menyadari bahwa pilihannya makin terbatas pada saham-saham blue chip yang sangat likuid seperti BBCA dan BMRI. Untuk mengoptimalkan saham-saham likuid ini, ia pun berinovasi dengan mengembangkan algoritma Artificial Intelligence (AI) trading.

AI ini bertindak sebagai return amplifier. Tujuannya bukan untuk high frequency trading yang mustahil di Indonesia, melainkan untuk mengoptimalkan swing trading jangka panjang pada saham-saham yang secara historis akan terus naik.

“Kita cuma nyari return amplifier-nya aja. Kalau diam aja mungkin 20%, kalau pakai AI bisa 35%,” tutur Kevin, membandingkan performa pasif dan aktif dengan bantuan teknologi.

BBCA: Pilihan Abadi untuk Kestabilan

Pada akhir perbincangan, Timothy Ronald mengajukan pertanyaan klasik: Saham apa yang akan dipilih Kevin Hendrawan untuk dipegang seumur hidup dan tidak pernah dijual?

Jawabannya adalah: Bank Central Asia (BBCA).

“Sahamnya cuman BBCA aja. Dan sometimes kita kalau bicara size-nya sudah besar, perlombaan lu itu adalah bukan perlombaan tinggi-tinggian return tiap tahun, tapi mana yang paling stable dan mana yang yield-nya secara dividen naik terus bisa growth terus, itu yang lu cari,” simpul Kevin.

Ini membawa perbincangan kembali pada inti investasi sesungguhnya: kekuatan compounding atau bunga majemuk. Ia mengutip Albert Einstein yang menyebut compound interest sebagai “keajaiban dunia kedelapan.” Bagi investor dengan modal besar, fokus beralih dari mencari untung cepat ke menjaga stabilitas dan pertumbuhan dividen yang dapat di-reinvest secara konsisten, menciptakan bola salju kekayaan (flywheel effect) yang tak terbendung.

Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Mengapa Cut Loss Adalah Jalan Tol Tercepat Menuju Kebebasan Finansial di Saham?

Read More :  Anggur Hitam vs Anggur Hijau: Mana yang Lebih Sehat?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *