Nana Tresna bukan sekadar ibu rumah tangga biasa. Ia adalah bukti nyata bagaimana kegagalan bisa menjadi modal termahal sekaligus pelajaran terbaik dalam hidup.
Dalam obrolannya di podcast Suara Berkelas #108, ia membongkar sisi gelap kehidupannya—mulai dari bisnis yang bangkrut hingga terjerat utang ratusan juta—dan bagaimana pengalaman itu membentuknya menjadi mentor yang membantu ribuan ibu rumah tangga kini.
Daftar Isi
Jebakan Pinjaman Usaha: Utang Rp500 Juta Jadi Rp1,2 Miliar
Bermula dari semangat membangun usaha bersama suami (mulai dari kedai bakmi hingga membuka tujuh cabang kios di mal), Nana Tresna terdesak untuk mengajukan pinjaman bank sebesar Rp500 juta.
Ironisnya, pinjaman ini bukan penyelamat, melainkan jebakan. Dengan tenor 20 tahun, Nana menyadari total pengembaliannya mencapai Rp1,2 Miliar!
“Berhutang itu tidak salah, tapi perencanaannya harus matang. Mengajukan pinjaman tanpa persiapan adalah kesalahan besar,” ungkapnya.
Di titik inilah ia menemukan pelajaran fundamental: Daripada mengandalkan pinjaman, ia kini sangat menyarankan untuk fokus meningkatkan skill. Dengan kemampuan yang kuat, kita bisa berkolaborasi (merger) dan mendapatkan investasi tanpa harus menjerat diri dengan utang.
Redefinisi Sukses: Bukan Rumah Besar, Tapi Tidur Siang
Krisis finansial yang dialaminya juga mengubah total pandangannya tentang kesuksesan dan kekayaan.
Saat kecil, Nana bermimpi menjadi kaya agar tidak lagi merasa minder di antara sepupu-sepupunya. Namun, setelah melewati fase terberat, definisinya bergeser.
“Saat aku di titik punya uang banyak pun, aku nggak pengin beli rumah yang gede-gede banget,” katanya.
Bagi Nana, kaya bukanlah tentang mobil mewah atau rumah besar, melainkan:
-
Bisa tidur siang santai bersama anak.
-
Bisa membiayai kebutuhan keluarga dan pendidikan anak.
-
Bisa membantu orang lain sambil menikmati secangkir kopi.
Kekayaan sejati, menurutnya, adalah memiliki kebebasan dan ketenangan—sesuatu yang sering tidak bisa dibeli oleh orang-orang super sibuk dengan uang berlimpah.
Nasihat Tajam untuk Gen Z & Milenial: Anti-Hoki dan Anti-FOMO

Nana Tresna memberikan dua nasihat keras yang sangat relevan bagi anak muda:
1. Lupakan Hoki, Kejar Usaha
Ia sering dicap “hoki” karena memenangkan lomba foto internasional. Nana menolaknya. “Aku nggak percaya sama hoki, tapi aku percaya berkat,” tegasnya. Keberuntungan, menurutnya, adalah hal yang akan datang kepada mereka yang mau mengusahakan dan mengetuk pintunya. Tidak ada hasil besar tanpa usaha yang tersembunyi.
2. Tabung Agresif, Lawan FOMO
Untuk urusan finansial, ia meminta anak 20-an untuk menabung gila-gilaan. Mengapa?
“Jangan dulu pergi ke luar negeri, jangan gonta-ganti handphone karena FOMO. Kalau di usia 20-an kamu menabung, kamu bisa lebih santai di usia 30-40, saat tanggungan dan kewajiban (KPR, anak, orang tua) sudah lebih banyak,”.
Ia juga menyoroti fenomena overthinking dan perfeksionisme di kalangan anak muda. Banyak yang takut memulai konten atau usaha karena takut di-judge atau hasilnya tidak sempurna. “Kalau kamu perfeksionis, seharusnya kamu langsung mulai dan bikin karya yang bagus, bukan tidak memulai sama sekali,” tutupnya.
Pelajaran Paling Berharga

Pada akhirnya, perjuangan Nana mengajarkan bahwa krisis adalah guru terbaik. Utang ratusan juta yang membuatnya menderita ternyata menjadi pengalaman yang kini ia bagikan untuk memberkati ribuan orang lain.
“Biarkan saja orang ngomongin apa, mereka nggak ngasih makan aku,” katanya.
Kunci keluar dari masalah bukanlah menyalahkan pasangan atau keadaan, melainkan menemukan apa yang bisa kita kerjakan dan membangun tujuan hidup yang jelas. Sebab, tujuan yang pasti adalah satu-satunya penangkal agar hidup kita tidak mudah “disetir” oleh arus dan opini orang lain.
Kamu juga bisa membaca artikel menarik lainnya Rahasia Kaya Pekerja Gaji UMR Terbongkar: Ubah “Susah Cari Uang” Jadi “Menyenangkan”!