Sosok Daehoon mungkin dikenal sebagai chef yang kocak dan vlogger yang energik. Namun, perannya sebagai Papa tiga anak—Juno, Enho, dan Jena—memancarkan filosofi parenting yang mendalam. Dalam perbincangan di Mom’s Talk, Daehoon membagikan tips bagaimana menjadi ayah yang hadir, menerapkan disiplin tanpa melukai mental, dan belajar menerima bahwa hidup memanglah melelahkan.
Artikel ini merangkum tiga pilar utama parenting Daehoon, yang ia bangun dari pengalaman hidupnya.
1. Disiplin Tanpa Trauma: Peraturan adalah Senjata, Bukan Emosi

Banyak orang tua bergumul dengan kemarahan. Daehoon mengakui bahwa ia pun, sebagai manusia, kadang marah. Namun, ia membedakan antara marah yang wajar dengan marah yang merusak.
Pilar pertama parenting Daehoon adalah: Peraturan harus ditegakkan, tetapi hukuman tidak boleh bersumber dari emosi.
Ia belajar dari pola asuh masa lalunya yang keras dan bertekad untuk memutus lingkaran tersebut pada anak-anaknya. “Kalau punishment-nya dari emosi, itu saya enggak suka banget, salah banget,” ujarnya tegas.
Daehoon menyarankan dua kunci utama dalam mengelola amarah:
Marah Wajar, Minta Maaf Wajib: “Kita bisa marah cuma jangan dengan alasan yang kita pribadi. Kedua, kalau habis marah harus minta maaf ke anaknya,” jelasnya. Permintaan maaf dari orang tua menjadi teladan bahwa berbuat salah adalah manusiawi.
Peraturan Jelas dan Konsekuen: Daripada berteriak, Daehoon memilih menggunakan peraturan. Contohnya, jika anak berebut saat berenang, kegiatan tersebut akan selesai. “Begitu mereka berantem, ya sudah, kita finish,” katanya. Konsekuensi ini mengajarkan anak tentang tanggung jawab, bukan ketakutan.
Ia juga menekankan bahwa orang tua harus menjadi teladan. “Kalau mau terapkan peraturan di rumah itu paling penting orang tua juga ikut,” seperti tidak bermain HP saat makan.
2. Mengurai Misteri GTM: Seni Eksplorasi Makanan

Salah satu momok terbesar bagi orang tua adalah Gerakan Tutup Mulut (GTM). Daehoon, yang memiliki latar belakang sebagai chef, berbagi resep rahasia mengapa anak-anaknya memiliki nafsu makan yang baik—terutama si bungsu, Jena.
Inti dari solusi GTM Daehoon adalah komposisi dan suasana.
Keseimbangan Nutrisi adalah Prioritas: “Saya sih lebih fokus ke komposisi, dan imbangi protein dan apa karbonnya juga,” kata Daehoon. Ia bahkan menggunakan produk penambah nutrisi yang alami untuk memastikan asupan protein anak-anak yang aktif terpenuhi.
Jadikan Makanan Sebagai Mainan: Daehoon menyadari bahwa anak GTM kurang tertarik pada makanan. Solusinya adalah membuat waktu makan menjadi sebuah eksplorasi yang menyenangkan. “Pertama, biar anak-anak tahu tekstur-nya, dan makan itu jadi sebuah main buat mereka, sebuah yang fun gitu, enjoy fun.”
Jadwal Ketat dan Fleksibel: Untuk anak sulungnya, Juno, yang masih sesekali GTM, Daehoon menerapkan jadwal makan yang ketat, menjaga jarak antara jajanan dan makanan utama minimal 3 jam agar anak benar-benar lapar. Namun, ia tetap fleksibel: “Juno enggak suka ya udah enggak usah makan… kalau kamu sudah kenyang ya udah cuci tangannya,” ujarnya.
3. Memeluk Masa Kini: Ketika Mimpi Seorang Chef Ditunda
Salah satu bagian paling menyentuh dari perbincangan ini adalah pengakuan Daehoon tentang mimpi profesionalnya. Sebagai seorang chef yang membutuhkan passion dan waktu total, ia harus memilih. Ia memilih anak-anaknya.
“Kalau emang saya enggak lepas… nanti pasti ada waktu sih. Bisa juga kayak umur 40, anak-anak sudah lumayan besar, kalau gitu ya bakar semua passion-nya di situ, tapi belum tepat waktu aja,” ujarnya.
Ia menyadari bahwa peran sebagai ayah tidak mengenal penundaan. Momen bersama anak-anak yang “gemoy” saat ini adalah masa yang takkan pernah bisa diulang.
Filosofi hidup Daehoon menjadi kunci untuk menghindari burnout dan penyesalan:
Terima Kenyataan Hidup: “Ya sudah, hidup itu memang capek. Dan, ya kalau kita dari sudah nerima yang kondisi itu, ya bisa cari kesenangan di ya hal-hal yang kecil gitu,” ungkapnya. Menerima kelelahan sebagai bagian dari proses membebaskan Daehoon dari tuntutan untuk selalu sempurna.
Fokus pada Hari Ini: Mengakhiri perbincangan, Daehoon menyampaikan pesan paling penting dalam hidupnya: “Kita enggak bisa atur masa lalu, kita enggak bisa atur masa depan. Kita bisa atur cuma masa ini.”.
Pada akhirnya, ia tidak memiliki pesan spesifik untuk ketiga anaknya 20 tahun mendatang. Alasannya? Karena ia sudah berusaha memberikan yang terbaik setiap hari.
“Saya setiap hari berusaha semaksimalnya untuk sayang-sayang mereka… ya enggak apa-apa, berharap kalian bahagia aja sih,” tutupnya. Sebuah penutup yang sederhana, namun mewakili segala pengorbanan dan cinta seorang ayah.
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti 3 Kunci Rahasia untuk Menjadi Individu Berkelas Top 1% dalam 10 Tahun ke Depan
Responses (2)