Keluar dari Sarang Ular Pertemanan Toxic: Seni Menjaga Batasan dan Menghilang Tanpa Drama

Lingkungan Toxic
Lingkungan Toxic

Di era serba terhubung, kita mungkin memiliki ratusan ‘teman’ di media sosial. Namun, seberapa banyak dari mereka yang benar-benar membawa kita pada pertumbuhan? Dalam obrolan mendalam di kanal Rory Asyari, penulis dan content creator kondang, Fardi Yandi, membuka pandangan radikal tentang membangun pertemanan sehat: tidak semua orang adalah teman, dan tidak apa-apa untuk menjauh.

Fardi Yandi, yang dikenal vokal mengenai pentingnya self-improvement, berbagi strategi personalnya dalam menyeleksi dan menjaga lingkaran pertemanan. Ini bukan tentang menjadi eksklusif, melainkan tentang menjaga energi dan kualitas hidup.

1. Alarm Bahaya: Kapan Persahabatan Berubah Jadi Racun?

Toxic relationship
Toxic relationship

Bagi Fardi, indikator paling jelas dari pertemanan yang toxic adalah dampak pasca-pertemuan.

“Ketika ketemu [teman] ngobrol, balik overthinking… Rasanya enggak nyaman banget, enggak sih? Pas pulang, kayak, aku ngapain sih tadi? Masa sih pertemanan membuat kita enggak bisa tidur?”

Fardi menekankan bahwa pertemanan yang sehat seharusnya membuat kita merasa nyaman, bertumbuh, dan ambisius. Jika kita sering pulang dengan perasaan terkuras, terbebani, atau mempertanyakan diri sendiri, itu adalah sinyal tegas untuk segera menarik diri.

2. Kenapa Lingkaran Inti Harus di Bawah 10 Orang?

Tanda-Tanda Kamu Sedang Menjalani Hubungan Toxic
Tanda-Tanda Kamu Sedang Menjalani Hubungan Toxic

Fardi Yandi secara eksplisit menyatakan bahwa ia membatasi lingkaran teman dekat yang diajak berbagi percakapan mendalam (level deep talk) menjadi sekitar 7 hingga 8 orang saja. Strategi ini memiliki alasan kuat, terutama untuk individu yang introvert.

Privacy is Power: Batas Adalah Bumerang

Konsep utamanya: “Privacy is Power”. Fardi percaya bahwa memberikan terlalu banyak informasi (oversharing) bisa menjadi bumerang. Manusia berubah, dan apa yang kita bagikan hari ini bisa digunakan melawan kita di masa depan.

Oleh karena itu, sebelum berbagi cerita (bahkan di media sosial), ia selalu melakukan screening diri: “Ketika orang lain tahu tentang hal ini, plus minusnya apa?”. Prinsip ini berlaku bahkan untuk lingkaran terdekat.

3. Strategi ‘Menghilang’ Tanpa Drama

Tipe Teman Toxic
Tipe Teman Toxic

Ketika Fardi menemukan pertemanan sudah tidak lagi sefrekuensi—bukan karena ada yang salah, melainkan karena beda prioritas—ia memilih cara yang halus: mundur pelan-pelan, lalu menghilang.

Untuk pertemanan di media sosial, ia menyarankan menggunakan fitur ‘Mute’ daripada ‘Unfollow’. Dengan ‘Mute’, Anda menjaga kemungkinan untuk membangun relasi lagi di masa depan, sambil menjaga kesehatan mental Anda dari konten yang tidak relevan.

Analogi Ular yang Ganti Kulit

Peringatan keras disampaikan dalam obrolan tersebut, mengutip sebuah analogi: Jangan pernah berteman kembali dengan seseorang yang pernah mencoba menghancurkan karakter, uang, atau relasi Anda.

“Ketika ada teman kamu yang menusuk kamu dari belakang, itu adalah ular. Ular hanya akan shed their skin (ganti kulit)… They are still a snake.”

Perubahan yang ditunjukkan setelah pengkhianatan seringkali hanyalah ‘kulit’ baru, sementara karakter inti (true colors) tetap sama, dan karakter yang sudah terbentuk bertahun-tahun tidak mudah diubah.

4. Pelajaran Paling Berharga: Jujur Lebih Baik daripada Manis Palsu

Hubungan toxic
Hubungan toxic

Dalam sesi rapid fire, Fardi ditanya mana yang lebih penting: teman yang jujur tapi menyakitkan atau teman yang baik tapi tidak jujur? Jawabannya tegas: jujur tapi menyakitkan.

Selain itu, ia belajar bahwa sebagian besar orang Indonesia cenderung komunal, namun susah jujur karena adanya mentalitas “tidak enakan”. Inilah yang membuat masalah kecil seperti ketidakpekaan finansial (inisiatif patungan) sering terpendam hingga menimbulkan kekesalan.

Kesimpulan: Fokus pada Diri Sendiri

Bagi Anda yang merasa sendiri atau belum menemukan teman sefrekuensi, Fardi Yandi menyarankan untuk melihat ke dalam diri.

“Pertemanan itu selalu dimulai dari lead by example… Kalau pengin punya teman-teman berkualitas, ya kita dulu yang harus berkualitas.”

Fokus pada peningkatan diri, nikmati kesendirian (solitude), dan pada saat yang tepat, nilai (value) dan energi Anda akan menarik orang-orang yang sama ke dalam hidup Anda.

Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Mengapa Karir dan Jodoh Harus By Design, Bukan By Default

Read More :  Inilah 7 Penyebab Kamu Kehilangan Gairah Hidup. Yuk Segera Atasi!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *