Dalam episode ke-99 podcast Suara Berkelas, seniman dan content creator muda, Erika Ricardo, membuka diri tentang perjalanan luar biasanya.
Ia membuktikan bahwa dorongan terbesar untuk sukses justru bisa datang dari ketiadaan validasi, dan bahwa obsesi yang berakar pada rasa penasaran adalah kunci untuk mencapai hal-hal yang dianggap “halu” oleh banyak orang—bahkan hingga melukis di badan pesawat!
Berikut adalah intisari dari kisah inspiratif Erika yang melampaui batas seni dan sosial.
Daftar Isi
Kekuatan Rejection is Redirection

Erika Ricardo memulai perbincangan dengan sebuah pengakuan yang mengejutkan: tingginya tingkat kepercayaan diri (confidence) yang ia miliki justru berakar dari kurangnya validasi dari orang tua.
Sebagai pengusaha, orang tuanya memandang seni sebagai hal yang “tidak akan menghasilkan apa-apa,” bahkan pernah membuang alat-alat lukisnya. Pandangan ini, alih-alih meruntuhkan semangatnya, justru mendorong Erika untuk mencari pengakuan di dunia luar, mengubah penolakan menjadi bahan bakar.
“Rejection is redirection,” tegas Erika. Ia menceritakan bagaimana ia butuh tiga tahun untuk meyakinkan pihak maskapai agar mengizinkannya melukis di badan pesawat. Di tengah penolakan, ia tetap berkarya dan keep showing up. Hasilnya? Maskapai tersebut akhirnya yang datang mendekat, membuktikan bahwa ketekunan adalah mata uang yang lebih berharga daripada permintaan.
Tiga Sekolah dari Kekuatan Manifesting
Mimpi-mimpi Erika tidak hanya terbatas pada kanvas dan media, tetapi juga berdampak sosial. Ia menceritakan keberhasilannya membangun tiga sekolah di Sumba dan Lombok, yang didanai melalui donasi publik.
Proyek ini membuktikan kekuatan komunitas dan narasi:
- Rp 500 Juta terkumpul dalam waktu kurang dari 2 minggu untuk sekolah pertama.
- Rp 1 Miliar terkumpul dalam 5 hari untuk dua sekolah berikutnya, melibatkan lebih dari 20.000 donatur.
Erika menyebut fenomena ini sebagai kekuatan manifesting, sebuah keyakinan kuat bahwa apa yang kita ucapkan dan pikirkan—jika diikuti dengan usaha dan intensi yang benar—akan terwujud. Ia bahkan menceritakan bagaimana timnya baru saja manifesting untuk diundang ke podcast Suara Berkelas, dan undangan itu datang hanya beberapa menit kemudian.
Keseimbangan: Belajar Ngerem dan Slow Down
Setelah empat tahun menjalani kehidupan dengan pace yang sangat cepat, Erika mengaku sedang berada di fase untuk “ngerem” atau melambatkan ritme hidup. Ia menemukan bahwa terus-menerus ngegas demi pencapaian membuat seseorang rentan kehilangan perhatian terhadap hal-hal kecil.
“Ketika aku slow down, aku bisa melihat orang-orang di sekitaran aku jauh lebih jelas… kita juga jadi lebih appreciate the small things in our life.”
Erika kini memandang self-doubt atau fase terendah dalam hidup bukan sebagai kegagalan, melainkan sebagai peluang belajar terbesar. Ia menyarankan agar kita belajar nyaman dengan ketidaknyamanan, karena dari dasar itulah kita dapat merangkak naik dan menemukan solusi untuk diri sendiri.
Nasihat untuk Generasi Muda
Bagi kaum muda yang ingin berkarir dan berkarya, Erika menekankan pentingnya tiga keterampilan utama, ditambah dengan sikap mental yang kuat:
- Perseverance (Kegigihan)
- Adaptability (Kemampuan Beradaptasi)
- Brainstorming (Melatih Otak untuk Terus Menciptakan Ide)
Erika menentang nasihat klasik “know your limit.” Baginya, justru di usia muda, kita harus menjelajah tanpa batas (push yourself until limitless) untuk menemukan potensi diri yang sebenarnya.
Ia merekomendasikan tiga buku yang membentuk pandangannya: You Do You (Fellexandro Ruby), Rich Dad Poor Dad (Robert Kiyosaki), dan Steal Like an Artist (Austin Kleon).
Kisah Erika Ricardo adalah pengingat bahwa seni tidak hanya menjadi bentuk ekspresi, tetapi juga alat untuk menggerakkan hati, membangun komunitas, dan mewujudkan impian yang paling “halu” sekalipun. Melalui kombinasi rasa penasaran, kegigihan, dan kemampuan beradaptasi, batasan limitless itu benar-benar hanya ada di pikiran kita.
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Jebakan Kesenangan Instan: Mengapa Integritas adalah Kompas Moral Paling Penting di Era FOMO