Mawar de Jongh: Mengapa Kamu Harus Berhenti Mengejar Kenyamanan di Usia 20-an

Mawar de Jongh
Mawar de Jongh

Bagi banyak orang, usia 20-an adalah medan perang antara ekspektasi dan realita. Di satu sisi, ada ambisi untuk menaklukkan dunia; di sisi lain, ada ketakutan luar biasa akan kegagalan.

Dalam episode terbaru podcast Suara Berkelas, aktris dan penyanyi Mawar de Jongh membongkar sisi kerentanannya yang jarang diketahui publik: tentang perjuangan melawan negative self-talk, jebakan media sosial, hingga mengapa “rasa takut” justru adalah kompas menuju pertumbuhan.

Berikut adalah tiga pelajaran hidup krusial dari perjalanan Mawar untuk kamu yang sedang menavigasi usia 20-an.

1. Berdamai dengan “Suara Kecil” di Kepala

Mawar de Jongh
Mawar de Jongh

Mawar mengakui bahwa musuh terbesarnya bukanlah kritikus film atau netizen, melainkan dirinya sendiri. “Kritik terbesar diriku adalah diriku sendiri,” akunya. Ia sering terjebak dalam pikiran bahwa karyanya kurang bagus atau dirinya tidak cukup mampu.

Apalagi di era media sosial, sangat mudah untuk merasa tertinggal saat melihat pencapaian orang lain. Namun, Mawar memberikan perspektif cerdas: jangan bandingkan proses internalmu yang berantakan dengan hasil akhir orang lain yang mengkilap di layar. Cara Mawar mengatasinya adalah dengan kembali fokus pada keunikan diri. Kita tidak perlu memiliki apa yang orang lain punya, karena mereka pun tidak memiliki apa yang kita miliki.

2. Keluar dari Zona Nyaman untuk Menghibur “Diri Masa Kecil”

Salah satu poin paling menyentuh dalam obrolan ini adalah motivasi Mawar dalam berkarya. Ia tidak mengejar ketenaran semata; ia ingin memberikan yang terbaik untuk “Mawar kecil” di dalam dirinya.

Read More :  6 Langkah Paling Bijak Ketika Menerima Kabar PHK. Jangan Dulu Berputus Asa, Tetap Tabah dan Jangan Menyerah!

Dulu, Mawar sangat takut mengambil risiko. Namun, ia menyadari bahwa setiap kali ia berani melangkah keluar dari zona nyaman—seperti saat pertama kali naik panggung untuk menyanyi—ia menemukan kebahagiaan yang tidak bisa dideskripsikan.

“Saat aku bernyanyi, aku merasa Mawar kecil ikut bernyanyi bersamaku. Dia yang bahagia,” ungkapnya.

Pesan bagi kita: Ambisi bukan soal membuktikan diri kepada dunia, tapi soal memenuhi janji pada diri kita yang dulu pernah bermimpi.

3. Pelajaran dari “Sampai Titik Terakhirmu”

Melalui peran terbarunya sebagai Shella (seorang pejuang kanker dalam kisah nyata), Mawar mendapatkan pelajaran hidup yang radikal tentang harapan. Ia belajar bahwa:

Support System adalah Kunci: Kata-kata semangat yang sederhana bisa menjadi bahan bakar luar biasa bagi seseorang yang sedang berjuang.

Empati Melalui Akting: Seni peran mengajarkan Mawar untuk tidak cepat menghakimi orang lain. Setiap orang punya latar belakang dan alasan di balik keputusan mereka yang terlihat aneh bagi kita.

Mengapa “Jangan Deg-degan” adalah Saran Terburuk?

Mawar menutup dengan sebuah pemikiran menarik tentang kecemasan. Baginya, menyuruh seseorang untuk “jangan deg-degan” justru kontraproduktif karena otak akan semakin fokus pada rasa gugup tersebut.

Alih-alih menyangkal rasa takut, Mawar memilih untuk menerimanya. Baginya, rasa deg-degan adalah tanda bahwa kita peduli pada apa yang kita lakukan. Cara terbaik melaluinya bukanlah dengan kata-kata, melainkan dengan tindakan kecil—seperti tarikan napas panjang atau genggaman tangan dari orang tersayang.

Kesimpulan untukmu di Usia 20-an

Jangan habiskan usiamu hanya untuk mencari tempat yang aman. Usia 20-an adalah waktu untuk merasa tidak nyaman, untuk gagal, untuk ditolak, dan untuk belajar. Seperti yang ditunjukkan Mawar, di balik rasa takut itu, ada versi terbaik dirimu yang sedang menunggu untuk ditemukan.

Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Gen Z: Generasi Strawberry atau Pionir Kesehatan Mental? Membongkar Mitos Depresi dan Duka Bersama Psikiater

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *