Gen Z: Generasi Strawberry atau Pionir Kesehatan Mental? Membongkar Mitos Depresi dan Duka Bersama Psikiater

Sifat Cowok yang Genit
Sifat Cowok yang Genit

Di era media sosial yang serba cepat, sering kita dengar Gen Z dicap sebagai “Generasi Strawberry”—indah di luar, tapi lembek di dalam. Benarkah demikian?

Psikiater dan penulis buku, dr. Andreas Kurniawan, dalam sebuah wawancara eksklusif di Ruang BK, justru menawarkan perspektif yang lebih dalam. Ia menjelaskan bahwa munculnya isu kesehatan mental ke permukaan bukanlah tanda kelemahan, melainkan hasil dari perubahan prioritas generasi dan masyarakat yang mulai berani bicara.

“Generasi X atau Boomers memang lebih tangguh, tetapi konsentrasi mereka berbeda—yaitu membangun fondasi yang kokoh. Gen Z kini berfokus pada ‘estetika’ kehidupan, termasuk kesehatan mental,” jelas dr. Andreas.

Patah Hati & Logika: Mengapa Remaja Sering Bertindak Impulsif?

Patah Hati Itu Hal yang Biasa
Patah Hati Itu Hal yang Biasa

Seringkali kita bingung mengapa remaja atau dewasa muda bertindak impulsif di media sosial atau saat marah. Dr. Andreas membeberkan alasan biologisnya yang mencengangkan:

  • Otak Emosi VS Otak Logika: Bagian otak yang mengatur emosi berkembang lebih cepat daripada prefrontal cortex (bagian logika, perencanaan, dan rem). Bagian ini baru matang sempurna sekitar usia 21-25 tahun.

  • Kesimpulan: Saat emosi memuncak, logika memang sedang dalam mode loading. Ini menjelaskan tindakan yang tidak dipikirkan panjang.

Namun, dr. Andreas menekankan satu prinsip emas yang wajib dipahami:

“Perasaanmu valid, tetapi perilakumu belum tentu.”

Boleh merasa marah, kecewa, atau sedih, tetapi itu tidak membenarkan perilaku merusak atau melanggar batas, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Strategi Cerdas Mengelola Duka dan Ekspektasi

Patah Hati
Patah Hati

Kabar baiknya, ada langkah-langkah praktis yang bisa dilakukan Gen Z untuk mengendalikan badai emosi:

1. Ubah Kata ‘Harus’ Menjadi ‘Alangkah Baiknya’

Kekecewaan seringkali berakar pada ekspektasi yang terlalu kaku, ditandai dengan kata “harus” (“Pasangan saya harus begini,” “Saya harus berhasil hari ini”).

  • Tips: Ganti kata “Harus” dengan “Alangkah baiknya jika…”

  • Efek: Perubahan kecil ini membuat pikiran kita menjadi fleksibel dan realistis, mengurangi beban saat kenyataan tidak sesuai rencana.

2. Anggap Emosi Sebagai Notifikasi HP

Jangan buru-buru menekan atau membuang emosi negatif.

  • Teknik: Perlakukan emosi sebagai notifikasi di ponsel Anda.

  • Contoh: Rasa marah mungkin memberi tahu bahwa batas (boundaries) Anda dilanggar. Rasa sedih memberi tahu ada sesuatu yang berharga hilang. Dengarkan pesan di balik notifikasi tersebut.

3. Jeda dan Responsif, Bukan Reaktif

Saat emosi memuncak, ambil split-second stop (jeda sepersekian detik) untuk bernapas.

  • Biologis: Teknik pernapasan yang dalam dan lambat akan mengaktifkan sistem saraf parasimpatis, yang berfungsi menenangkan denyut jantung, tekanan darah, dan ketegangan otot.

  • Respon Cerdas: Latih diri untuk Responsif (memberi jeda dan berpikir), bukan Reaktif (aksi-reaksi spontan yang biasanya disesali belakangan).

Time Does Not Heal, Action Does

Patah Hati
Patah Hati

Mengenai duka, dr. Andreas, yang juga penulis buku “Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring” setelah kehilangan anaknya, menawarkan konsep yang kuat:

  1. Duka Tidak Mengecil, Kita yang Tumbuh: Konsep Growing around Grief menjelaskan bahwa ukuran duka akan tetap sama, tetapi kita yang berkembang dan membesar di sekitarnya.

  2. Mencuci Piring dan Mindfulness: Mencuci piring adalah analogi tentang menghadapi duka. Kita tidak membuang piring kotor (menghilangkan duka), tetapi membersihkannya dengan proses. Noda membandel (duka yang sulit hilang) perlu dibiarkan terendam air (aktivitas positif atau waktu merenung) sebelum digosok.

  3. Waktu Bukan Penyembuh Tunggal: “Waktu akan menyembuhkan luka, tapi hanya jika kita melakukan sesuatu untuk penyembuhan itu.”

Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional?

Semua orang pasti pernah merasa tertekan (feeling depressed), tetapi itu berbeda dengan benar-benar mengalami depresi (having depression).

  • Indikasi Utama: Jika mengalami penderitaan (distress) dan gangguan fungsi (dysfunction) yang berkepanjangan (lebih dari dua minggu), seperti tidak bisa bekerja, kuliah, atau menjalin hubungan sosial secara normal.

  • Jangan Excuse: “Mental illness explains a situation, but it doesn’t excuse it.” Jika depresi menghalangi aktivitas, itu adalah tanggung jawab kita untuk mencari pertolongan.

Menghadapi Stigma

Dr. Andreas berpesan, jangan khawatir dengan stigma masyarakat. Yang terpenting adalah lingkungan terdekat kita.

  • Pilih Lingkaran Inti: Kita harus selektif memilih lima orang terdekat karena mereka memengaruhi nilai dan energi kita.

  • Batasan (Boundaries) Adalah Kunci: Batasan bukanlah tembok, melainkan pintu dan jendela yang kuncinya kita pegang. Kita bisa memilih siapa yang kita izinkan masuk ke ruangan terintim (masalah pribadi) dan siapa yang hanya sampai di ruang tamu.

Kesimpulan:

Gen Z bukanlah generasi yang lembek, melainkan generasi yang lebih sadar bahwa kesehatan mental adalah bagian integral dari hidup yang harmonis. Dengan mengenali validitas emosi, mengelola ekspektasi, dan berani menetapkan batasan, setiap orang dapat menavigasi kompleksitas hidup modern dengan lebih tangguh dan waras.

Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Kunci Sukses Jangka Panjang: Bukan Keahlian, Tapi Konsistensi yang Membosankan

Read More :  Di Lembaran Baru, Fokus Menjadikan Masa Depan Lebih Baik Tanpa Berharap Lagi Pada Masa Lalu 

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *