Menjadi Saksi Hidup Sendiri Ala Ustadz Abdurrahman Zahier: Melawan FOMO di Era “Infinite Scrolling”

Melawan FOMO di Era Infinite Scrolling
Melawan FOMO di Era Infinite Scrolling

Pernahkah Anda merasa cemas hanya karena tertinggal satu tren di media sosial? Atau merasa hidup Anda “jalan di tempat” saat melihat teman lama mengunggah foto umrah atau pencapaian bisnis mereka?

Jika iya, Anda tidak sendirian. Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan durasi scrolling tertinggi di dunia, sebuah aktivitas yang tanpa sadar telah mengubah kita menjadi “saksi” kehidupan orang lain, namun abai terhadap kehidupan sendiri.

Dalam diskusi hangat di Fitya Room, Ustadz Abdurrahman Zahier mengupas tuntas fenomena FOMO (Fear of Missing Out) dan bagaimana hal tersebut perlahan menggerogoti ketenangan hati kita.

FOMO: Penyakit Hati di Balik Layar Kaca

Melawan FOMO di Era Infinite Scrolling
Melawan FOMO di Era Infinite Scrolling

Ustadz Abdurrahman menegaskan bahwa dalam konteks negatif, FOMO bukan sekadar masalah psikologis biasa, melainkan masalah spiritual.

“FOMO dalam konteks negatif adalah penyakit hati yang akar permasalahannya dari ghaflah (kelalaian), kekosongan waktu, dan kehampaan hati.”

Kita sering terjebak dalam perbandingan yang tidak adil. Apa yang kita lihat di layar hanyalah “replika kehidupan”—potongan kecil dari 100 cuplikan cerita manusia yang sengaja dipilih yang baik-baik saja. Akibatnya, kita sering merasa jauh ketinggalan, padahal setiap manusia memiliki garis start dan finish yang berbeda-beda.

Terjebak dalam “Infinite Scrolling” dan “Brain Rot”

Pos 3 Gunung Luhur Sukamakmur Bogor
Pos 3 Gunung Luhur Sukamakmur Bogor

Pernahkah Anda membuka ponsel hanya untuk 5 menit, namun tiba-tiba satu jam telah berlalu? Inilah yang disebut fenomena infinite scrolling. Menurut Ustadz Abdurrahman, ini adalah bagian dari tanda akhir zaman di mana waktu terasa berjalan sangat cepat (yataqarabazaman).

Dampaknya tidak main-main. Konsumsi konten singkat yang terus-menerus tanpa jeda menyebabkan attention span manusia menurun drastis.

“Banyak penelitian menyebutkan istilah ‘brain rot’. Kita tidak bisa berpikir secara cepat dan cermat karena otak dipenuhi informasi sampah yang tidak bermanfaat.”

Kapan FOMO Diperbolehkan?

Dear X Episode 7
Dear X Episode 7

Tidak selamanya rasa takut ketinggalan itu buruk. Ustadz memberikan perspektif bahwa FOMO bisa menjadi positif (positive way) jika diarahkan pada:

  1. Wawasan Keilmuan: Takut ketinggalan informasi yang menambah kedekatan dengan Allah atau keterampilan dunia yang bermanfaat.

  2. Profesionalisme: Seperti seorang MC atau kreator konten yang perlu tahu tren untuk menunjang kariernya, asalkan tetap dalam koridor syariat.

Namun, kuncinya tetap satu: Batasan (Boundaries). Kita harus tahu kapan harus berhenti melihat urusan pribadi orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan tujuan hidup kita.

Mencari Validasi: Langit atau Bumi?

Pendidikan Peach Pachara Chirathivat
Pendidikan Peach Pachara Chirathivat

Salah satu pemicu terbesar FOMO adalah kebutuhan akan afirmasi sosial. Kita ingin dianggap ada, keren, dan masuk dalam circle tertentu. Namun, Ustadz Abdurrahman mengingatkan kita untuk mengubah arah pandang.

“Kebahagiaan kita ditentukan dari bagaimana Allah memandang kita, bukan bagaimana orang lain memandang kita. Satu juta orang membenarkan kita tidak akan bermanfaat jika Allah menyalahkan kita.”

Jika kita sibuk mencari validasi manusia, kita akan lelah karena opini manusia selalu berubah-ubah. Hari ini mereka memuji A, besok mereka mencela B.

Langkah Praktis Menghadapi Arus Konten Negatif

Amanda Manopo dan Kenny Austin
Amanda Manopo dan Kenny Austin

Di akhir diskusi, ada pesan kuat mengenai tanggung jawab kita sebagai pengguna teknologi:

  • Jihad Digital: Melaporkan (report) atau memblokir konten yang merusak (seperti judi online atau pornografi) adalah bentuk jihad masa kini.

  • Proteksi Keluarga: Anak-anak belum memiliki filter mental yang kuat. Memberikan gadget secara penuh sebelum usia matang (disarankan SMA) bisa bersifat destruktif bagi karakter mereka.

  • Menjadi Produsen Kebaikan: Jika konten “nirfaedah” menguasai linimasa, itu karena orang-orang baik berhenti memproduksi konten edukatif.

Kesimpulan

Kita tidak dilahirkan untuk menjadi penonton kehidupan orang lain. Sebagaimana kutipan penutup yang menyentuh:

“Kita tidak dilahirkan untuk menjadi saksi dari kehidupan orang lain. Kita dilahirkan untuk menjadi saksi bagi kehidupan kita sendiri.”

Mari mulai meletakkan ponsel sejenak, berhenti membandingkan, dan mulai fokus pada tujuan yang sebenarnya: Mendapat validasi dari Sang Pencipta.

Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti 4 Ujian Amorim Demi Kudeta Posisi Puncak dari Aston Villa

Read More :  Rahasia Di Balik Wajah: Mengapa Penyakit Hati Bisa Merusak Penampilan dan Fisik Kita?

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *