Menelisik Batas Tipis Antara Mencintai Diri dan Memanjakan Nafsu

Status Jomblomu
Status Jomblomu

Di era modern yang penuh tekanan, istilah self love dan self healing sering kali menjadi “mantra” pelarian bagi banyak orang. Namun, benarkah tindakan yang kita lakukan adalah bentuk cinta pada diri sendiri, atau jangan-jangan itu hanyalah cara kita menghalalkan hawa nafsu?

Dalam episode perdana Fitya Room, Ustadz Abdurrahman Zahier membedah fenomena ini dengan sudut pandang Islam yang tajam dan menenangkan.

1. Jebakan “Kemasukan” Setan dalam Diksi Indah

Mengubah Insecure Menjadi Self-Confidence
Mengubah Insecure Menjadi Self-Confidence

Banyak dari kita terjebak dalam diksi-diksi keren yang sebenarnya membungkus kemaksiatan. Ustadz Zahier mengingatkan bahwa setan tidak pernah mempromosikan keburukan sebagai hal yang buruk, melainkan menghiasinya agar terlihat indah.

“Setan tidak mengatakan bahwa kemaksiatan itu indah, tapi dia membuatnya terlihat indah… Mereka membungkus perzinaan dengan kata cinta, membungkus ghibah dengan kata ‘sharing concern’, dan membuka aib dengan dalih ‘honesty talk’.”

2. Mengapa Pelarian Kita Tidak Menyelesaikan Masalah?

Cara Mengatasi Rasa Insecure Saat Lama Menjomblo
Cara Mengatasi Rasa Insecure Saat Lama Menjomblo

Data menunjukkan banyak remaja lari ke rokok atau perilaku destruktif lainnya dengan dalih stres atau self reward. Namun, Ustadz menekankan bahwa masalah yang diciptakan Allah hanya bisa selesai dengan cara yang Allah ridhai.

“Masalah sejatinya terselesaikan dengan takwa, masalah sejatinya selesai dengan taat. Sebagaimana yang menciptakan masalah adalah Allah, maka yang menyelesaikan masalah juga adalah Allah.”

3. Konsep Self Healing yang Sejati: Menjemput Ketenangan

Jadilah Jomblo Yang Hebat
Jadilah Jomblo Yang Hebat

Jika selama ini kita merasa burn out meski sudah berkali-kali “healing” ke tempat mewah, mungkin ada yang salah dengan metodenya. Ketenangan sejati bukan berasal dari lingkungan luar, melainkan dari kedekatan dengan Sang Pencipta.

“Ketahuilah bahwa dengan mengingat-Nya hati akan menjadi tenang… Tranquility itu datang dari berzikir. Self healing yang benar adalah sesuai dengan keinginan Sang Pemberi Ketenangan.”

4. Waspada terhadap “Istidraj”: Nikmat yang Menghancurkan

Satu poin yang sangat menyentil adalah tentang kesuksesan duniawi. Jangan bangga jika karir menanjak dan harta melimpah namun ketaatan justru menurun. Bisa jadi, itu adalah Istidraj.

“Kalau Allah tidak langsung tegur kita pada saat kita melakukan kemaksiatan, itu lebih berbahaya daripada teguran langsung. Tidak sama orang yang jatuh dari ketinggian 10 dengan orang yang jatuh dari ketinggian 100.”

5. Definisi Sebenarnya dari Mencintai Diri Sendiri

Cinta sejati selalu berbanding lurus dengan penjagaan. Jika kita mengaku mencintai diri sendiri namun membiarkan diri terjerumus dalam dosa yang merusak masa depan di akhirat, maka itu adalah cinta palsu.

“Cinta erat maknanya dengan penjagaan. Kecintaan kita kepada diri kita adalah menjauhkan diri dari segala hal yang membuat diri kita terlukai, terhinakan, dan ternistakan, yaitu dari kemaksiatan-kemaksiatan.”

Kesimpulan: Menjemput Titik Balik

Hidayah tidak datang dengan berdiam diri. Kita harus menjemputnya. Meskipun perjalanan menuju ketaatan sering kali naik-turun (fluctuating), kunci untuk tetap bertahan adalah dengan tidak pernah membuka pintu kemaksiatan sekecil apa pun.

“Istiqamah adalah target, tapi dalam tujuan menuju istiqamah pasti ada naik turun. Cara menjaganya agar tidak terlalu jatuh adalah dengan banyak beristigfar.”

Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Psikolog vs. Psikiater: Siapa yang Benar-Benar Bisa Menyembuhkan?

Read More :  Jessica Iskandar Melahirkan Anak Ketiga, Vincent Verhaag: Istriku, Kamu Kuat...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *