Tahun 2026 diprediksi bukan sekadar angka di kalender, melainkan ujian nyata bagi ketahanan finansial anak muda Indonesia. Dalam sebuah diskusi hangat yang menghadirkan Raymond Chin, Theo Derick, dan Pak Joko (praktisi perbankan), terungkap sebuah kenyataan pahit: inflasi bergerak jauh lebih cepat daripada angka di buku tabungan kita.
Lantas, bagaimana cara bertahan bagi mereka yang berpenghasilan UMR atau terjebak dalam beban generasi sandwich? Berikut adalah rangkuman strategi dan kutipan inspiratif untuk menyelamatkan masa depan Anda.
Daftar Isi
1. Masalah Utama: Bukan Kurang Uang, Tapi Salah Mindset

Banyak orang merasa tidak bisa menabung karena gaji yang kecil. Namun, Theo Derick menekankan bahwa masalah sebenarnya sering kali ada di kepala kita sebelum sampai ke dompet.
“Jangan marah-marah kalau diri kita miskin. Kalau marah-marah, malah terjebak victim mentality yang bikin orang enggak mau keluar dari mindset-nya. Lu harus terima dulu (kondisinya) baru bisa fight.” — Theo Derick
Perbedaan antara si kaya dan si miskin sering kali dimulai dari apa yang dibicarakan di meja makan. Jika di rumah kita hanya diajarkan “cicil saja yang penting cukup”, maka kita akan sulit melihat peluang investasi yang lebih besar.
2. Pensiun Bukan Hak Orang Kaya Saja

Ada mitos bahwa dana pensiun hanya milik mereka yang bergaji dua digit. Pak Joko mematahkan hal ini dengan menekankan pentingnya disiplin sejak dini, sekecil apa pun nominalnya.
“Semakin awal orang menyadari untuk menyisihkan, terlepas sekecil apa pun, itu lebih baik. Kuncinya adalah disiplin dan memilih produk yang tepat untuk mempercepat angka gol kita.” — Pak Joko
Memulai investasi dengan Rp100.000 saat ini jauh lebih berharga daripada memulai dengan jumlah besar sepuluh tahun lagi karena adanya kekuatan Bunga Majemuk (Compounding Interest).
3. Gaji UMR? Side Hustle Adalah Keharusan
Bagi Anda yang merasa gaji UMR tidak akan pernah cukup untuk membeli rumah atau pensiun, Raymond Chin memberikan perspektif yang pragmatis. Di era digital, mengandalkan satu sumber penghasilan saja sangat berisiko.
“Pertanyaannya bukan mau invest apa, tapi lu mau belajar apa habis ini supaya value kenaikan lu bisa ditukerin sama uang. Kemampuan menghasilkan uang harus sejalan dengan era digital.” — Raymond Chin
Kerja keras saja tidak cukup. Anda butuh “leverage”—meningkatkan nilai diri melalui skill baru (seperti AI, konten, atau teknologi) agar pendapatan bisa melonjak melampaui inflasi.
4. Strategi “Retire with Joy” ala Theo Derick
Theo membagikan targetnya untuk mencapai kebebasan finansial di usia 38 tahun. Baginya, pensiun bukan berarti berhenti total, melainkan bekerja karena ingin, bukan karena harus.
“Retirement yang enak adalah kita bekerja bukan karena harus, tapi karena kita mau. Mayoritas orang tua di Indonesia bekerja karena harus, dan itu sedih.” — Theo Derick
Strateginya simpel: Tutup biaya hidup dari passive income. Jika biaya hidup Anda 10 juta, dan passive income Anda 35 juta, Anda punya ruang luas untuk menikmati hidup tanpa rasa takut.
5. Pesan untuk Generasi Sandwich
Memutus rantai generasi sandwich berarti kita harus menjadi orang terakhir yang memikul beban tersebut. Caranya? Dengan mempersiapkan diri agar tidak menjadi beban bagi anak cucu kita nantinya.
“Pensiun layak bukan cuma hak orang kaya. Semua orang bisa nyicil perlahan dari usia 20-an. Jangan jadikan situasi susah sebagai alasan untuk menyerah.”
Kesimpulan: Bertahan hidup di tahun 2026 dan seterusnya memerlukan tiga pilar utama: Pengembangan diri (naikin value), Pengembangan Network (mencari peluang), dan Likuiditas (punya uang tunai yang siap diinvestasikan). Jangan tunggu mapan untuk memulai, karena waktu adalah aset terbesar yang Anda miliki sekarang.
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Dosa Besar di Balik Gundulnya Hutan: Menggugat Keserakahan dan “Tahu Diri” Penguasa
Response (1)