Olret.id – Banyak orang tua bertanya: Apakah ada aturan yang harus dipatuhi, selama proses pertumbuhan anak? Jawabannya iya.
Institut Gesell untuk Perkembangan Anak di Universitas Yale, AS, telah melacak pertumbuhan ribuan anak selama lebih dari 40 tahun dan menemukan bahwa perkembangan psikologis dan perilaku anak-anak teratur, dengan setiap tahun memiliki fokus pertumbuhannya sendiri. Khususnya, periode usia 1 hingga 8 tahun adalah “8 tonggak emas” yang tidak boleh diabaikan oleh orang tua.
Daftar Isi
- 1 Tahap 1 tahun: Mengembangkan rasa aman pada anak
- 2 Tahap 2 tahun: Mengembangkan selera humor anak
- 3 Tahap 3 tahun: Mengembangkan kreativitas anak-anak
- 4 Tahap 4 tahun: Mengembangkan keterampilan ekspresif anak-anak
- 5 Tahap 5 tahun: Mengembangkan keterampilan menulis anak-anak
- 6 Tahap 6 tahun: Pengembangan kepribadian
- 7 Tahap 7 tahun: Mengembangkan empati
- 8 Tahap 8 tahun: Mengembangkan kemandirian
Tahap 1 tahun: Mengembangkan rasa aman pada anak
Psikolog perkembangan menunjukkan bahwa pembentukan rasa aman pada anak terutama terjadi pada tahap sebelum berusia 1 tahun. Anak-anak pada tahap ini sangat membutuhkan kehadiran orang dewasa, memperhatikan tindakan mereka, berbicara kepada mereka, dan membuat mereka tertawa bahagia.
Yang sebaiknya dilakukan orang tua pada masa ini adalah menghindari membiarkan anak menangis, membiarkan anak tidur sendiri terlalu awal, tidak banyak bicara pada anak, menitipkan anak pada orang tua atau sanak saudara daripada tinggal bersama orang tua.
Tahap 2 tahun: Mengembangkan selera humor anak
Anak-anak berusia 2 tahun tertawa sangat polos, sering kali menyeringai ketika mereka melihat sesuatu yang menarik. Mereka bahkan mengerjai diri mereka sendiri dan menertawakan hal-hal lucu yang mereka temukan. Faktanya, anak-anak usia ini sangat sensitif terhadap ekspresi wajah.
Oleh karena itu, ketika orang tua menertawakan anak-anaknya dan bertingkah “badut” di hadapan mereka, emosi positif pada anak justru akan terpupuk.
Bila rasa humor tidak dipupuk sejak dini, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang kaku, tidak bisa bercanda, dan tidak bisa menemukan tawa dalam hidup.
Tahap 3 tahun: Mengembangkan kreativitas anak-anak
Anak-anak berusia sekitar 3 tahun memecahkan masalah dengan berpikir dalam gambar, ini adalah benih pemikiran logis abstrak. Beberapa tindakan anak-anak bahkan mengejutkan orang tua mereka: mereka memanjat keluar dari tempat tidur bayi sambil menumpuk bantal satu di atas yang lain, mereka menggambar gambar-gambar aneh yang berwarna-warni.
Untuk memotivasi anak, orang tua dapat membeli balok warna-warni, krayon, dan lego sederhana agar anak dapat menata dan mengekspresikan imajinasi serta kreativitasnya.
Tahap 4 tahun: Mengembangkan keterampilan ekspresif anak-anak

Ketika anak berusia sekitar 4 tahun, ekspresi verbal menjadi lebih kaya. Mereka bisa mengoceh sepanjang hari, termasuk bernyanyi dan bahkan berteriak, mereka suka bertanya, berbicara dengan mainan, berbicara sendiri.
Orang tua harus meningkatkan interaksi verbal dengan tepat untuk mendorong anak mengekspresikan diri secara verbal. Pada saat yang sama, orang tua harus memperhatikan kecepatan pengucapan anak mereka, agar dapat segera mengoreksi kegagapan tersebut.

Dalam hal kemampuan menulis, anak usia 3 tahun lebih banyak mencoret-coret, anak usia 4 tahun lebih sering membuat kreasi dengan garis, sedangkan anak usia 5 tahun memasuki tahap sensitif bahasa tulis, dan bahkan mungkin mencoba menirukan penulisan nama mereka sendiri, menulis huruf secara terbalik.
Jika kamu ingin anak berlatih menulis dengan indah, kamu dapat memulainya saat ia berusia 5 tahun. Orang tua dapat berlatih dengan anak-anaknya dari huruf yang sederhana hingga yang rumit. Kamu perlu mengajarkan anak posisi duduk yang benar, yaitu “satu tegak, satu tegak lurus, dua sama tinggi”, yaitu badan tegak, kepala tegak, bahu sejajar, dan kaki sejajar.
Tahap 6 tahun: Pengembangan kepribadian

Sebuah penelitian di AS menunjukkan bahwa usia 6 tahun merupakan tahap penting dalam pembentukan kepribadian seorang anak. Namun, banyak orang tua yang cenderung menuruti kebiasaan buruk anak-anaknya dan beranggapan bahwa “orang tua melahirkan anak dan Tuhan yang memberikan kepribadian pada anak”, ini sepenuhnya salah.
Anak-anak pada tahap ini memasuki pola pikir “egois”, dengan harapan dapat membangun kemandirian mereka sendiri. Oleh karena itu, orang tua perlu membimbing anak-anaknya agar dapat berpikir mandiri dan positif, namun juga harus menumbuhkan kepribadian positif pada diri anak-anaknya.
Tahap 7 tahun: Mengembangkan empati

Anak usia 7 tahun mempunyai ciri-ciri sudah bisa berfikir, lebih tertutup, lebih sensitif dan cepat matang dalam hal berfikir, bentuk berfikir tersebut sudah berada pada tahap “uji operasi”. Anak-anak secara bertahap belajar untuk hidup rukun dengan orang lain, mulai memikirkan orang lain, dan ingin mendapatkan penerimaan serta persetujuan dari teman-teman, guru dan lingkungannya.
Oleh karena itu, pada tahap ini, orang tua harus berinteraksi dengan baik dengan anak-anaknya, memberikan masukan, membimbing mereka untuk melihat segala sesuatu secara positif, belajar untuk bersimpati, dan lebih banyak berbagi dengan orang lain.
Tahap 8 tahun: Mengembangkan kemandirian

Anak berusia 8 tahun siap membantu orang lain, peduli dengan penilaian orang lain dan mencoba menemukan tempatnya di keluarga dan masyarakat (lingkungan kelas, komunitas).
Pada tahap ini, anak-anak secara bertahap menjadi bertanggung jawab atas tindakan mereka dan memiliki konsep yang lebih jelas tentang baik dan buruk. Orang tua hendaknya secara sadar memupuk kemandirian anak-anaknya, misalnya dengan mengajarkan mereka membawa tas sekolah sendiri, pergi ke sekolah sendiri dan mendorong mereka untuk secara proaktif membangun persahabatan. Hal-hal ini membantu anak secara bertahap membentuk rasa kemandirian dalam hidup.