Pertandingan melawan Aston Villa (23:30, 21 Desember) akan menghadirkan banyak tantangan bagi MU dan manajer Ruben Amorim.
Daftar Isi
Bersiaplah untuk “pertarungan kecerdasan” yang menegangkan

Pada pukul 23:30 tanggal 21 Desember, MU akan menghadapi pertandingan tandang yang menantang melawan Aston Villa di putaran ke-17 Liga Primer. Saat ini, tim tuan rumah memiliki performa yang mengesankan, dengan 9 kemenangan beruntun dan 15 kemenangan dalam 17 pertandingan terakhir mereka. Mereka juga merupakan salah satu tim paling konsisten tidak hanya di Liga Primer tetapi juga di Eropa saat ini.
Di sisi lain, tim asuhan Ruben Amorim juga secara bertahap kembali ke jalur yang benar, bahkan memiliki serangan terkuat ketiga di Liga Primer (30 gol), hanya di belakang Arsenal (31 gol) dan Man City (41 gol).
Namun, alih-alih hanya mengandalkan penampilan individu yang eksplosif untuk menciptakan permainan terbuka, faktor penentu kemenangan MU terletak pada pendekatan taktis mereka terhadap pertandingan.
Unai Emery terkenal karena kecerdasan dan pragmatismenya. Kualitas-kualitas manajer asal Spanyol ini telah membantu Aston Villa mempertahankan posisinya di peringkat atas Liga Premier, bahkan secara konsisten menyulitkan tim-tim besar.
Sejak awal musim, mereka bermain imbang dengan Newcastle (0-0), mengalahkan Tottenham (2-1), Man City (1-0), dan yang terbaru, mengamankan kemenangan 2-1 melawan pemimpin klasemen Arsenal di putaran ke-15. Melawan lawan tangguh seperti Emery, Amorim jelas dianggap sebagai tim underdog.
Mempertahankan Fleksibilitas Antara Pertahanan 3 dan 4 Pemain

Dalam pertandingan terakhir mereka melawan Bournemouth (imbang 4-4), MU menunjukkan tingkat adaptabilitas taktis yang tinggi. Tim tidak terpaku pada satu sistem saja, tetapi terus berganti antara dua formasi selama pertandingan.
Secara khusus, “Setan Merah” dapat beroperasi dengan pertahanan 3 pemain saat menyerang dan beralih ke pertahanan 4 pemain saat bertahan. Luke Shaw bermain lebih ke dalam sebagai bek tengah sisi kiri, sementara Diogo Dalot didorong lebih ke depan untuk berpartisipasi dalam serangan, menciptakan struktur 3-2-5 saat menguasai bola.
Ketika kehilangan penguasaan bola, tim dengan cepat beralih ke formasi pertahanan empat pemain, meningkatkan perlindungan defensif mereka. Struktur organisasi ini memungkinkan MU untuk menciptakan keunggulan jumlah pemain baik dalam serangan maupun pertahanan.
Perubahan fleksibel seperti itu memberi mereka “Rencana A dan Rencana B” dalam pertandingan yang sama. Manajer Inggris Thomas Tuchel pernah berkata, “Formasi hanyalah kerangka kerja bagi para pemain untuk beroperasi,” dan MU membuktikan hal itu.
Apakah Kobbie Mainoo layak menjadi starter?

Di bawah kepemimpinan Amorim, Kobbie Mainoo bukan lagi pilihan utama. Alasan utamanya adalah intensitas tinggi dan pergerakan jarak jauh yang dibutuhkan dalam sistem 3-4-3 yang dibangun oleh manajer asal Portugal tersebut.
Namun, keputusan untuk menggunakan dua formasi dalam pertandingan yang sama, seperti saat melawan Bournemouth, secara signifikan mengurangi beban kerja gelandang tengah. Saat bertahan dengan struktur 4-4-2, MU dapat lebih melindungi lini tengah, sekaligus memungkinkan Mainoo untuk menunjukkan kekuatannya.
Pemain berusia 20 tahun ini sangat kuat dalam mengontrol bola di ruang sempit, menggiring bola melewati lawan di lini tengah, dan memberikan umpan langsung kepada para penyerang. Ini adalah sesuatu yang kurang dimiliki oleh Casemiro yang sudah berpengalaman.
Kedatangan Mainoo juga menciptakan ritme serangan yang berbeda untuk MU, jadi fakta bahwa gelandang Inggris ini dimasukkan dalam susunan pemain inti melawan Aston Villa mungkin tidak terlalu mengejutkan.
Menghentikan Morgan Rogers

Untuk menetralisir Aston Villa, Manchester United harus mengendalikan lini tengah, terutama Morgan Rogers – pemain penting dalam gaya permainan tim tuan rumah.
Villa memiliki tiga gelandang dengan kemampuan mematahkan tekanan yang sangat baik: Youri Tielemans, John McGinn, dan Morgan Rogers. Mereka dapat menerima bola, dengan terampil menggiring bola melewati lawan yang menekan, atau melakukan kombinasi cepat untuk mempertahankan kendali bagi tim mereka.
Ini menimbulkan risiko signifikan jika MU mendekati pertandingan dengan tekanan tinggi yang konstan dalam formasi 3-4-3, karena dengan mudah meninggalkan celah. Pelajaran dari pemimpin klasemen Arsenal – yang dikalahkan oleh Aston Villa di putaran ke-15 Liga Primer – tetap relevan, jadi MU seharusnya tidak melakukan pressing tinggi dengan segala cara.
Sebaliknya, para bek tengah Setan Merah perlu secara proaktif menekan Rogers segera setelah ia menerima bola, mencegahnya berbalik dan menuju ke gawang.
Jika pemain berusia 23 tahun itu diberi ruang di depan kotak penalti, ada risiko besar dia akan melepaskan tembakan berbahaya yang dapat menentukan hasil pertandingan. Pilihan yang lebih berani mungkin adalah menugaskan Leny Yoro untuk menjaga ketat Rogers.
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Mantan Bintang Chelsea Melakukan Hal yang Tak Terpikirkan
Response (1)