Dalam perjalanan menuju kedewasaan, kita sering mendengar istilah “validasi”. Namun, jarang ada yang benar-benar memahami bahwa validasi adalah pisau bermata dua.
Dalam salah satu episode podcast Ruang Tunggu, dr. Andreas dan timnya mengupas tuntas mengapa kekurangan maupun kelebihan validasi bisa berdampak buruk bagi kesehatan mental manusia.
Daftar Isi
Ketika Dunia “Menolak” Perasaan Kita: Dampak Invalidasi

Invalidasi terjadi ketika perasaan seseorang tidak diakui atau dianggap salah oleh lingkungannya. Hal ini paling sering dimulai dari pola asuh. Banyak orang tua merasa bahwa dengan tidak memuji atau bersikap keras, mereka sedang membentuk “mental baja”. Namun, kenyataannya justru sebaliknya.
“Niat yang baik belum tentu membuat anak menjadi
bagus. Yang ada, dia bakal merasa, ‘Ah, aku ternyata tidak kuat, aku tidak bisa memenuhi ekspektasi orang tuaku’.”
Anak-anak yang tumbuh tanpa validasi yang cukup akan membawa “rasa lapar” ini hingga dewasa. Mereka akan terus mencari pengakuan dari orang lain seolah-olah itu adalah misi personal hidup mereka.
Jebakan Over-Validation dan Victim Mentality

Di sisi lain, tren kesehatan mental saat ini terkadang membawa kita ke arah sebaliknya: over-validation. Ini adalah kondisi di mana setiap perasaan dan tindakan kita selalu dibenarkan tanpa adanya evaluasi.
Bahaya terbesar dari over-validation adalah lahirnya victim mentality. Seseorang mungkin merasa nyaman terus-menerus divalidasi sebagai korban, sehingga ia tidak pernah merasa perlu untuk memperbaiki diri atau keluar dari pola hidup yang merusak.
“Validasi tanpa refleksi itu berbahaya. Perasaanmu valid, tapi bukan berarti perilakumu dibenarkan.”
Solusi “Tiga Potong Semangka” untuk Hidup yang Lebih Sehat

Agar kita tidak terjebak dalam lubang invalidasi maupun over-validation, podcast ini menawarkan solusi praktis yang disebut sebagai “Tiga Potong Semangka”:
1. Validasi Perasaan, Bukan Perilaku Kita harus bisa membedakan antara apa yang kita rasakan dengan apa yang kita lakukan. Jika seorang teman patah hati, perasaannya valid, namun perilaku merusak seperti mabuk-mabukan tetap tidak bisa dibenarkan.
“Yang kita validasi adalah perasaannya, bukan perilakunya. Kamu mengalami kecewa, kamu mengalami sedih, tapi apakah benar kalau langsung (bertindak) seperti ini?”
2. Label yang Menumbuhkan, Bukan yang Menyakiti Gunakan label emosi untuk membantu kita berkembang. Tanyakan pada diri sendiri: “Apakah pengakuan atas perasaan ini membuatku tumbuh atau justru membuatku terjebak?”.
3. Manusia adalah Sosok yang Utuh Jangan pernah melabeli diri hanya dengan satu sifat negatif. Jika Anda merasa pemarah, akuilah itu, namun ingatlah bahwa Anda juga memiliki sisi lain yang positif.
“Jangan sampai aku mengatakan bahwa ‘Aku orangnya pemarah’. Bagaimana kalau aku membuatnya, ‘Aku pemarah, tapi kadang-kadang aku juga bisa sabar kok untuk hal tertentu’.”
Kesimpulan: Refleksi adalah Kunci
Pesan utama dari diskusi ini sangat jelas: validasi hanyalah langkah awal. Langkah selanjutnya yang jauh lebih penting adalah refleksi. Tanpa refleksi, validasi hanya akan menjadi bahan bakar untuk ego, bukan untuk pertumbuhan diri.
Seperti yang disampaikan dalam video, terapi atau pengembangan diri yang benar terkadang harus membuat kita merasa “tidak nyaman” agar kita bisa tumbuh lebih kuat, layaknya otot yang harus dilatih dengan beban agar menjadi kokoh.
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Menembus Usia 40: Strategi Finansial Agar Tidak “Kehabisan Napas” di Masa Tua
Response (1)