Banyak orang merasa ngeri membayangkan tidak makan selama 72 jam. Namun, dalam dunia medis dan kesehatan, praktik yang dikenal sebagai water fasting ini ternyata menyimpan “keajaiban” biologis yang mampu mereset sistem tubuh hingga ke level seluler.
Dr. Hans melalui kanal SB30 Health menjelaskan bahwa puasa panjang bukan sekadar menahan lapar, melainkan sebuah strategi untuk memicu kemampuan regenerasi alami tubuh.
Daftar Isi
1. Perbedaan Mendasar: Puasa vs. Kelaparan

Sebelum melangkah lebih jauh, dr. Hans menekankan pentingnya meluruskan pola pikir. Puasa (fasting) sangat berbeda dengan kelaparan (starving).
“Puasa itu artinya kita bisa makan tapi kita memilih untuk tidak makan. Jadi ini beda sama orang yang benar-benar kondisinya tidak ada makanan,” jelas dr. Hans.
2. Linimasa Keajaiban Tubuh (16 hingga 72 Jam)

Tubuh kita adalah mesin yang sangat adaptif. Berikut adalah tahap-tahap perubahan yang terjadi:
-
Fase 16 Jam: Awal Pembersihan (Autofagi) Pada tahap ini, tubuh mulai beralih dari membakar gula ke membakar lemak.
“Terjadi inisiasi atau awal terjadinya autofagi… mekanisme luar biasa untuk pembersihan protein-protein yang sudah rusak di dalam tubuh kita untuk digantikan menjadi protein yang baru,” ungkapnya.
-
Fase 24 Jam: Lonjakan Hormon Awet Muda Memasuki satu hari penuh, terjadi peningkatan growth hormone (hormon pertumbuhan) yang drastis—hingga 2000% pada pria. Hormon ini berfungsi membakar lemak dan menjaga massa otot.
-
Fase 36 – 48 Jam: Perbaikan “Mesin” Sel (Mitofagi) Di titik ini, tubuh melakukan perbaikan pada mitokondria (pabrik energi sel).
“Terjadi perbaikan mitokondria… mitokondria yang rusak didaur ulang menjadi mitokondria yang baru,” kata dr. Hans. Hal ini sangat penting karena kerusakan mitokondria sering kali menjadi akar masalah penyakit kronis seperti kanker.
-
Fase 72 Jam: Reset Sistem Imun & Stem Cell Inilah puncak dari puasa panjang. Tubuh mulai memicu regenerasi sel punca (stem cell).
“Regenerasi sistem kekebalan tubuh… sistem kekebalan yang selama ini ‘bodoh’ (seperti pada kasus autoimun) terjadi regenerasi,” jelasnya. Tubuh seolah-olah menekan tombol factory reset untuk sistem pertahanan alaminya.
3. Persiapan dan Keamanan: Jangan Sembarangan!

Meskipun manfaatnya luar biasa, dr. Hans memperingatkan bahwa puasa 3 hari memerlukan persiapan mental dan fisik yang matang.
“Jangan enggak pernah puasa kemudian langsung puasa 48 jam atau 72 jam, tentu tubuhnya enggak siap,” tegasnya.
Poin Penting Saat Puasa:
-
Hidrasi & Elektrolit: Tetap minum air dan konsumsi elektrolit seperti garam Himalaya atau suplemen magnesium/kalium agar tidak lemas.
-
Cara Berbuka yang Benar: Ini adalah tahap paling krusial. Jangan langsung “balas dendam” dengan makan besar atau karbohidrat tinggi karena berisiko menyebabkan refeeding syndrome.
-
Saran Makanan Buka Puasa: Kaldu tulang (bone broth), sup sayuran bening, alpukat, atau telur rebus adalah pilihan terbaik untuk “memanaskan” kembali mesin pencernaan.
4. Siapa yang Dilarang?
Dr. Hans memberikan catatan tegas bahwa tidak semua orang boleh melakukan puasa panjang (lebih dari 24 jam). Golongan yang harus menghindari antara lain: ibu hamil/menyusui, anak-anak dalam masa pertumbuhan, orang yang terlalu kurus (underweight), penderita gangguan makan, dan diabetes tipe 1.
Kesimpulan: Puasa 72 jam adalah cara ampuh untuk mendaur ulang sel rusak dan memperkuat imun secara mandiri tanpa biaya mahal. Namun, kuncinya adalah bertahap dan mendengarkan kondisi tubuh sendiri.
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Psikolog vs. Psikiater: Siapa yang Benar-Benar Bisa Menyembuhkan?