Dalam dunia yang menuntut kita untuk selalu tampil sempurna, cerdas, dan bergelimang pencapaian, banyak dari kita yang justru merasa “asing” di dalam tubuh sendiri.
Shahnaz Soehartono, jurnalis dan penulis yang dikenal lewat pembawaannya yang elegan, secara terbuka membagikan perjalanan spiritual dan emosionalnya saat menghadapi titik terendah dalam hidupnya.
Ini bukan sekadar cerita tentang karier, melainkan tentang keberanian untuk “pulang” ke diri sendiri.
Daftar Isi
1. Ketika “Sukses” Terasa Kosong

Bagi banyak orang, Shahnaz adalah potret wanita sukses. Namun, di balik layar, ia pernah berada di titik di mana ia tidak mengenali bayangannya di cermin. Ia terjebak dalam ambisi untuk membuktikan diri hingga melupakan kebutuhan jiwanya.
“Gua kerja terus enggak habis-habis, tapi ketika gua pulang ke rumah, gua melihat ke kaca dan gua enggak suka orang yang gua lihat.”
Kesadaran ini membawanya pada sebuah refleksi besar: Apakah semua aset material yang dikejar selama ini sepadan dengan kedamaian yang hilang? Shahnaz menyadari bahwa kepuasan sejati tidak datang dari barang branded, melainkan dari ketenangan batin.
2. Intuisi: Kompas yang Tak Pernah Salah

Salah satu bagian paling emosional dari percakapan ini adalah bagaimana Shahnaz sangat mengandalkan intuisi atau gut feeling. Baginya, intuisi adalah suara Tuhan yang membimbingnya keluar dari situasi yang tidak lagi sehat, termasuk saat ia memutuskan meninggalkan karier mapan atau mengakhiri hubungan.
“Gua tidak peduli siapapun yang meninggalkan gua, asal gua tidak meninggalkan diri gua sendiri.”
Ia menegaskan bahwa kita sering kali mematikan intuisi demi memenuhi ekspektasi orang lain. Padahal, ketika kita jujur pada diri sendiri, semesta akan membantu kita menemukan jalan yang benar.
3. Kekuatan untuk “Melepas” (Letting Go)

Shahnaz bercerita tentang pengalamannya bergulat dengan depresi pascapersalinan (postpartum depression) dan bagaimana ia belajar untuk memaafkan luka masa lalu melalui terapi dan meditasi. Ia percaya bahwa kontrol hanyalah ilusi.
“Kontrol itu enggak ada sama sekali. Kontrol itu hanya ilusi. Ketika tiba-tiba koneksi itu berantakan, ya berarti Tuhan bilang sudah.”
Kini, Shahnaz lebih memilih untuk menjadi “otentik” daripada “sempurna”. Ia tidak lagi merasa perlu membuktikan kecerdasannya atau kecantikannya kepada dunia. Baginya, satu testimoni dari pembaca yang merasa hidupnya terselamatkan jauh lebih berharga daripada semua pakaian desainer di dunia.
4. Tips bagi Kamu yang Sedang Lelah

Jika saat ini kamu merasa kehilangan arah, Shahnaz memberikan pesan sederhana namun mendalam untuk memulai kembali:
-
Mulai dari Hal Kecil: “Start small. Buat satu kebiasaan baik yang bisa lu ikutin, entah itu berdoa atau meditasi. Kalau kita mulai dengan sesuatu yang besar, biasanya enggak akan sustain.”
-
Melambatlah: Jika ia bisa bicara pada dirinya 10 tahun lalu, ia hanya akan mengatakan, “Slow down, girl. You’re already enough.”
Penutup: Menjadi Jembatan Makna
Perjalanan Shahnaz mengajarkan kita bahwa hidup bukan tentang seberapa cepat kita sampai ke puncak, melainkan tentang seberapa dalam kita mengenal diri kita sendiri. Ia kini mendedikasikan hidupnya untuk menjadi jembatan bagi orang lain agar bisa kembali menemukan cahaya di dalam diri mereka.
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti
Response (1)