Di balik pergerakan grafik saham yang fluktuatif, ada strategi dingin dan kalkulasi matang yang dimainkan oleh para pengelola dana besar. Dalam sebuah diskusi mendalam, Ivan, Fund Manager dari Henan Asset Management, membongkar bagaimana institusi mengelola miliaran rupiah, menghadapi krisis, hingga strategi di balik saham-saham IPO yang sering kali melesat “to the moon”.
Daftar Isi
1. Musuh Terbesar Investor Bukanlah Market, Melainkan Diri Sendiri

Banyak retail terjebak dalam emosi, namun bagi seorang profesional, musuh utamanya adalah bias. Ivan menekankan bahwa disiplin adalah harga mati dalam menjaga objektivitas.
“Musuh nomor satu sebetulnya adalah bias. Kita harus menghormati kalau market decide untuk menjual, ya akan terjadi penjualan tersebut dan harga akan turun. Kita harus punya disiplin dan menghindari bias sebanyak mungkin.”
2. Rahasia di Balik “Sakti-nya” IPO Henan

Bagi para pemburu saham IPO, kode broker HP (Henan Sekuritas) sering kali dianggap sebagai jaminan kualitas. Ivan menjelaskan bahwa ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari selektivitas yang ketat.
“Kita selektif aja. Mereka bukan mengejar volume, tapi mencoba memahami bahwa IPO ini punya dampak positif jangka panjang. Kita melihat kualitas secara grup.”
Inilah alasan mengapa saham IPO yang dikawal Henan sering kali sulit didapatkan oleh retail (hanya dapat 1 lot), karena permintaan yang membludak namun barang yang ditawarkan sangat terjaga kualitasnya.
3. Strategi “Bertahan Hidup” Saat Market Crash
Berbeda dengan retail yang bisa dengan mudah “cut loss” dan memegang uang tunai 100%, manajer investasi konvensional memiliki aturan main yang ketat: wajib memegang saham minimal 80%. Lalu, bagaimana mereka selamat saat krisis?
“Saat krisis, kita harus cepat-cepat tahu saham mana yang bisa benefit atau paling resilien. Misalnya krisis moneter di Indonesia, kita pindah ke saham eksportir. Kita harus sudah siapkan skenarionya sebisa mungkin.”
4. Mengintip “Dapur” Henan Asset Management

Sehari-hari, tim pengelola dana tidak hanya menatap layar monitor. Mereka bekerja dalam ekosistem yang saling menantang ide satu sama lain. Ivan mengelola universe yang terdiri dari sekitar 120 hingga 130 saham pilihan yang telah melalui filter likuiditas dan kapitalisasi pasar.
“Saya justru harapkan ada challenge dari tim saya supaya bias saya berkurang dan saya bisa melihat lebih objektif dari keputusan investasi tersebut.”
Uniknya, Ivan mengaku sebagai tipe Fund Manager yang agresif: “Saya termasuk yang paling agresif, sering ambil posisi sedini mungkin. Kalau saya salah, ya sudah, saya keluar.”
5. Alokasi Aset: Jangan Hanya Ikuti Teori
Meskipun secara teori investor yang sudah berkeluarga harus lebih konservatif, Ivan memilih jalan yang berbeda karena ia memahami apa yang ia beli. Ia mengalokasikan sekitar 50% portofolio pribadinya di saham Indonesia.
“Saya outlier dari sisi alokasi aset karena saya punya understanding dan experience di sini. Saya fokus di sesuatu yang saya pahami.”
Kesimpulan untuk Investor Retail
Pelajaran berharga dari sang pengelola dana adalah: kenali siapa yang bermain di balik sebuah saham. Dengan memperhatikan broker (seperti JP Morgan atau UBS untuk melihat smart money) dan memahami fundamental pemilik perusahaan, investor retail bisa memiliki peluang lebih baik untuk “menang” di pasar modal.
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Timothy Ronald OTW Penjara? Balada Kerugian Rp3 Miliar dan Pecahnya “Bom Waktu” Academy Crypto