Ibu yang Terlalu Hadir: Dampak Overbearing Mothers pada Kesehatan Mental Anak

Overbearing Mothers
Overbearing Mothers

Fenomena overbearing mothers—atau ibu yang terlalu terlibat dan mengatur—menjadi topik hangat yang seringkali tidak disadari dalam dinamika keluarga. Dalam episode terbaru POD. RUANG TUNGGU #S3 | EP. 35 (Part 2), Dr. Andreas dan Sora membahas secara mendalam bagaimana peran ganda seorang ibu, terutama dalam kasus fatherless behaviors, dapat bergeser dari rasa cinta menjadi bentuk kontrol yang merusak.

Artikel ini mengupas definisi, penyebab, dan konsekuensi psikologis dari kehadiran ibu yang berlebihan, serta bagaimana cara kita sebagai anak (atau calon orang tua) menyikapi trauma warisan ini.

Apa Itu Overbearing Mother? Cinta yang Berubah Menjadi Kontrol

Support orang tua
Support orang tua

Seorang ibu memiliki insting alami untuk mengurus dan mengayomi. Namun, batas antara kepedulian dan kontrol bisa sangat tipis. Menurut Dr. Andreas, overbearing terjadi ketika dasar pengasuhan “bukan lagi cinta, tetapi ada dominance yang pertama, kedua intrusif, dan ketiga ada emotional fusion.”

Fenomena ini dicirikan oleh tiga hal utama:

  • Dominasi dan Intrusif: Ibu mengatur setiap aspek kehidupan anak, mulai dari karir, pasangan, pakaian, hingga cara berbicara.

  • Emotional Fusion (Peleburan Emosi): Ibu merasa melekat dengan anaknya, seolah-olah anak harus memiliki pandangan dan keinginan yang sama dengannya. “Dia memberikan apa yang dia pikir anaknya butuhkan, bukan apa yang anaknya beneran butuhkan,” ujar Dr. Andreas.

Peran Ganda sebagai Pemicu

Salah satu penyebab utama munculnya overbearing mother adalah ketika ibu terpaksa mengambil peran ganda di rumah tangga akibat ketidakhadiran ayah (fatherless). Beban pekerjaan rumah tangga ditambah pekerjaan mencari nafkah (Full Time Job) bisa menyebabkan kelelahan ekstrem.

Saat lelah, ibu mungkin berpikir: “Udahlah yang penting aku kendalikan semuanya biar aman.”. Kontrol ini menjadi mekanisme pertahanan diri, bukan lagi ekspresi cinta yang sehat.

Trauma Warisan: Dampak Psikologis pada Anak

Screenshot 20241027 214315 Instagram
sabda dan orang tuanya/instagram @shantywsh

Dampak dari pengasuhan yang terlalu mengendalikan sangatlah serius, bahkan berpotensi berkembang menjadi gangguan jiwa. Anak yang dibesarkan di bawah kontrol ketat dapat mengalami dua jalur konsekuensi psikologis:

1. Gagal Menjadi Pribadi yang Mandiri

Jika anak memilih untuk mengikuti semua aturan orang tua, ia gagal dalam proses individuation—proses menyadari bahwa ia adalah entitas terpisah dari orang tuanya.

  • Peningkatan Kecemasan: Anak menjadi gampang cemas dan merasa tidak aman. “Keamanan ini hanya bisa didapatkan dengan approval dari orang tuanya,” kata Dr. Andreas.

  • Gangguan Kepribadian: Anak berisiko mengembangkan Dependent Personality Disorder, yaitu merasa semua keputusan harus dibantu dipilihkan oleh orang lain.

2. Kerusakan Konsep Diri dan Emosi

Anak yang mencoba melawan tapi tidak sanggup (karena masih kecil) mengalami cognitive dissonance. Ia merasa tidak nyaman dengan kontrol orang tua, namun juga tidak memiliki pegangan terhadap dirinya sendiri.

  • Kekosongan Diri: “Dia jadi merasa kosong, merasa kayak bingung dengan dirinya,” yang akhirnya bisa menyebabkan ia berkembang menjadi seseorang dengan emosi yang tidak stabil (emotionally unstable).

  • Parentification: Kondisi ketika anak dipaksa menjadi dewasa terlalu cepat atau menjadi “orang tua” bagi orang tuanya, misalnya dengan mendengarkan curhat yang tidak sesuai dengan usianya. Masa anak-anaknya terlewat, dan di masa depan ia kesulitan meregulasi emosinya.

Solusi Kehidupan: Menjaga Batasan yang Sehat

Aku Berjuang Mendapatkan Restu Orang Tuamu
Aku Berjuang Mendapatkan Restu Orang Tuamu

Menghadapi overbearing mother memerlukan strategi yang bijak tanpa harus memutuskan hubungan.

1. Mengenali Batasan Cinta dan Kontrol

Langkah pertama adalah membedakan apakah ibu hanya sekadar peduli (wajar) atau benar-benar overbearing (ciri khasnya adalah guilt-tripping atau ancaman durhaka yang kencang).

2. Komunikasi Asertif

Hindari sikap pasif (mengiyakan semua) atau agresif (melawan secara emosional). Lakukan komunikasi secara asertif:

“Kita menyampaikan memahami apa yang dia rasakan. Aku paham nih Mama khawatir, tapi kita menyampaikan juga perasaan kita. Mama percaya aja aku sudah dewasa, aku bakal jaga diri…”

3. Membangun Healthy Boundaries

Batasan yang sehat bukan berarti memutus hubungan, tetapi “mencintai seseorang dari jarak tertentu,” ujar Dr. Andreas.

Ini termasuk berani mengatakan tidak dan bertanggung jawab penuh atas pilihan hidup Anda. Tunjukkan pada orang tua bahwa Anda bahagia dan aman dengan keputusan Anda.

Sora menyimpulkan bahwa yang terpenting adalah menyadari bahwa kita tidak bisa mengubah orang tua. “Yang kalian bisa lakukan, ya kayak yang tadi kita udah kasih tipsnya. Mencoba untuk berelasi sebaik-baiknya sambil mengenali boundaries sendiri.”

Menghentikan siklus trauma transgenerasi ini dimulai dari diri kita sendiri.

Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Stop Ngegas! Mengapa Wanita Berkelas Justru Memilih untuk “Ngerem” di Tengah Puncak Karier

Read More :  5 Trik Sukses Segera Mendapatkan Pekerjaan. Biar Nggak Lama- Lama Menganggur! 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *