Jangan Pernah Anggap Remeh Anggaran: Pakar Keuangan Ungkap “Dosa” Finansial Mayoritas Masyarakat

Jangan Pernah Anggap Remeh Anggaran
Jangan Pernah Anggap Remeh Anggaran

Di tengah gempuran tren konsumsi dan janji kemudahan finansial, sebuah nasihat mendasar tentang pengelolaan uang sering kali diabaikan. Pakar keuangan dari kanal SUARA BERKELAS baru-baru ini menyoroti apa yang ia sebut sebagai “dosa” finansial terbesar masyarakat: ketiadaan anggaran (budgeting) yang terstruktur.

Dalam sebuah tayangan yang viral, pembicara dengan tegas membantah pandangan populer yang meremehkan penyusunan anggaran. “Ini tuh menarik ya,” ujarnya memulai, “karena ada [pandangan] bahwa enggak perlu kamu bikin budget… itu bikin kamu malah enggak bisa achieve apa-apa. Udahlah jalanin aja.”

Menurutnya, anggapan ini adalah jurang yang berbahaya.

Budgeting Bukan Belenggu, Tapi Logika

Jangan Pernah Anggap Remeh Anggaran
Jangan Pernah Anggap Remeh Anggaran

Sering kali, aturan populer seperti 50/30/20 (living, saving, playing) dianggap terlalu kaku dan membatasi. Namun, pakar tersebut menekankan bahwa keberatan terhadap aturan itu mengaburkan esensi dari perencanaan keuangan itu sendiri.

“Itu bahaya banget,” tegasnya. “Karena penelitiannya sudah banyak sekali bahwa budgeting helps us to make logical decision.”

Memiliki anggaran, sebutnya, adalah sebuah kesadaran mental. Anggaran berfungsi sebagai rambu-rambu yang memungkinkan kita tahu batas pengeluaran. “Dengan budgeting itu ada di mental kita tahu bahwa saya memang hanya boleh pakainya segini,” jelasnya. “Jadi kalau misalnya ini lewat, saya sadar penuh ini tuh lewat.”

Rezeki Bablas di Dealer Mobil

Konsekuensi dari tidak adanya anggaran menjadi sangat fatal saat seseorang menerima rezeki yang tidak terduga, atau bahkan rezeki yang seharusnya dialokasikan untuk masa depan.

Dalam sebuah analogi yang tajam, ia menceritakan kisah para bapak-bapak yang memasuki usia pensiun tanpa dana pendidikan anak yang memadai. Mereka berdalih “Insyaallah dicukupkan.”

Pakar tersebut menyentil balik: “Jangan-jangan dulu rezekinya udah turun, tapi terus Bapak-bapak pergi ke dealer mobil jadi DP deh tuh.”

Read More :  Haruskah Saya Minum Air Kelapa Daripada Air Putih?

Ia melanjutkan, “Pilih DP mobil instead of dana pendidikan anak. Coba jujur sama aku, STNK sudah ganti berapa kali?” Pertanyaan retoris itu langsung menusuk inti masalah. “There goes your dana pendidikan anak,” pungkasnya, menunjukkan betapa mudahnya dana penting “bablas” karena tidak ada pos anggaran yang mengikat.

Prinsip 50/30/20 Bersifat Adaptif

Menyadari bahwa tidak semua orang berada pada posisi finansial yang sama, khususnya bagi mereka dengan upah minimum (UMR), ia memberikan catatan adaptif.

Ia mengingatkan, jika persentase 50/30/20 belum bisa dicapai, jangan langsung menyalahkan teorinya. “Yang penting kita enggak payat, yang penting kita enggak pinjol,” pesannya. Hal ini menunjukkan bahwa prioritas utama adalah menjaga kesehatan finansial dasar dan menghindari utang konsumtif yang mencekik.

Namun, ia menegaskan bahwa aturan ideal 50/30/20 tetaplah tujuan yang harus dikejar.

Pada akhirnya, kesimpulan dari pakar keuangan ini sangat jelas: “Itu [budget] menurut aku penting banget untuk semua orang punya budget supaya mereka bisa create hidup yang memang lebih indah dan sejahtera.”

Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Stop Delusi, Buang Gengsi: Panduan Realistis Agar Anak 20-an Tidak Terjebak Stagnasi

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *