Maudy Ayunda bukan sekadar artis atau public figure; ia adalah seorang pemikir yang dididik oleh filsafat dan teori politik di kampus-kampus terbaik dunia. Namun, di balik gelar-gelarnya, terdapat tiga buku krusial yang ia akui telah mengguncang dan membentuk inti pemikirannya.
Ini adalah daftar bacaan yang mengubah cara Maudy Ayunda melihat dunia—dari mempertanyakan akar ketidakadilan hingga merangkul penderitaan.
1. Titik Nol Kritik: Ketika Ketidaksetaraan Bukan Takdir

Di bangku kuliah jurusan Philosophy, Politics, and Economics (PPE), Maudy menemukan sebuah karya yang ia sebut sebagai “pemicu” (trigger) intelektualnya: The Origins of Inequality (atau karya yang membahas topik serupa) oleh John Stuart Mill.
Bagi Maudy yang saat itu berusia 19 tahun, buku tipis ini memaksanya keluar dari zona nyaman pemikiran yang diwarisi.
“Membuat gue secara kritis mempertanyakan mungkin hal-hal yang sifatnya adalah di dunia ini tuh social construct yang mana yang sebenarnya core atau human nature,” ungkap Maudy.
Ini adalah pelajaran untuk tidak menerima segala sesuatu yang diwariskan secara turun-temurun. Ia belajar untuk menilai kembali: manakah tradisi yang harus dipegang teguh, dan manakah yang harus dihancurkan karena hanya ilusi sosial semata?
2. Harapan dari Neraka: Logika Makna di Tengah Penderitaan

Saat berada dalam fase terberat dalam hidupnya, Maudy menemukan Man’s Search for Meaning karya psikiater sekaligus korban Holocaust, Viktor Frankl. Buku ini adalah pelajaran bertahan hidup yang paling gelap, namun paling mencerahkan.
Frankl menolak hedonisme dan kekuasaan sebagai tujuan hidup. Ia menegaskan: Manusia didorong oleh pencarian makna. Maudy mengakui buku ini menyentuhnya di saat ia sedang “menderita dengan diri aku sendiri.”
Konsep paling revolusioner dari Frankl yang diresapi Maudy adalah kekuatan untuk menemukan makna bahkan dalam penderitaan.
“Bahkan dalam penderitaan, selama ada makna yang bisa didapatkan, itu bisa membuat hidup terasa worthwhile,” tegas Maudy.
Frankl mengajarkan bahwa makna bisa didapat dari karya, cinta, dan—yang terpenting—kemampuan kita untuk menanggapi takdir dan penderitaan dengan penuh keberanian dan harapan.
3. Seni Melepaskan Kendali: Mengapa Kita Harus Mengatakan ‘Biarkan Saja’
Buku ketiga adalah pengingat harian yang sangat dibutuhkan di era penuh kendali dan obsesi opini: The Let-Them Theory (konsep yang populer berkat Mel Robbins).
Buku ini mengajarkan alat self-care terbaik: biarkan mereka dan biarkan keadaan terjadi. Maudy mengakui kecenderungannya untuk terlalu peduli terhadap pandangan orang.
“Selama ini aku selalu mencoba untuk mengontrol opini orang tentang aku, tentang orang di sekitar aku,” aku Maudy.
Namun, teori ini memberikan kedamaian. Ini bukan tentang mengabaikan, melainkan tentang membangun batas mental yang sehat, menolak untuk mengorbankan energi demi hal-hal di luar kendali kita.
“Dengan mengupayakan ya sudahlah biarin aja mereka seperti itu,” tutup Maudy.
Dari mempertanyakan politik hingga membebaskan diri dari opini orang lain, daftar bacaan ini adalah peta jalan menuju kedewasaan emosional dan intelektual seorang Maudy Ayunda.
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Jangan Pernah Anggap Remeh Anggaran: Pakar Keuangan Ungkap “Dosa” Finansial Mayoritas Masyarakat.