Pernahkah Anda mendengar istilah “Marriage is Scary” yang belakangan sering berseliweran di media sosial? Di tengah maraknya berita perselingkuhan, KDRT, hingga konflik mertua, pernikahan kini tak lagi dipandang sebagai “gerbang menuju kebahagiaan abadi”. Justru bagi banyak orang, pernikahan terlihat seperti sebuah risiko besar yang menakutkan.
Dalam sebuah diskusi mendalam di kanal YouTube Ruang Tunggu, psikiater dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ, membedah mengapa ketakutan ini begitu nyata dan bagaimana kita harus menyikapinya.
Daftar Isi
Pergeseran Core Belief: Dari Kebahagiaan ke Bertahan Hidup

Dahulu, masyarakat memiliki core belief (kepercayaan dasar) bahwa menikah adalah satu-satunya jalan menuju kebahagiaan. Namun, dr. Andreas mencatat adanya pergeseran drastis.
“Core belief yang beredar dulu adalah menikah itu bakal bahagia. Sekarang, yang muncul justru ‘in this economy’ kayaknya menikah itu susah. Menikah jadi terlihat seperti jebakan.”
Paparan media sosial yang tanpa filter memperlihatkan “aib” rumah tangga orang lain turut memperparah ketakutan ini. Jika dulu album foto pernikahan hanya berisi senyum manis, sekarang kita disuguhi realita pahit dari balik layar setiap harinya.
Trauma: “Rumah yang Sedang Kebakaran”

Salah satu faktor terkuat dari ketakutan ini adalah trauma masa kecil. dr. Andreas memberikan perumpamaan yang sangat menyentuh tentang anak-anak yang tumbuh di keluarga yang tidak harmonis:
“Kalau seorang anak tumbuh besar dalam rumah yang kebakaran, dia akan menganggap semua rumah itu kebakaran.”
Anak yang melihat orang tuanya tidak bahagia sering kali mengembangkan mekanisme pertahanan diri. Ada yang memilih menyerah pada nasib, ada yang berjuang mati-matian untuk tidak menjadi seperti orang tuanya, namun banyak juga yang memilih untuk menghindar sepenuhnya dari komitmen karena takut mengulang penderitaan yang sama.
Waspadai Manipulasi F.O.G

Banyak orang takut menikah karena terjebak dalam hubungan yang tidak sehat. dr. Andreas mengingatkan kita untuk waspada terhadap manipulasi yang disebut F.O.G (Fear, Obligation, Guilt):
-
Fear (Ketakutan): “Kalau kamu putus, aku bakal celakain diri sendiri.”
-
Obligation (Kewajiban): “Kamu kan pasangan aku, harusnya kamu nurut apa kata aku.”
-
Guilt (Rasa Bersalah): Membuat Anda merasa bersalah atas segala kegagalan dalam hubungan.
Solusi “Semangka”: Menghadapi Rasa Takut

Bagaimana jika kita ingin menikah tapi masih merasa takut? dr. Andreas menawarkan solusi yang ia sebut sebagai sesi “Semangka” (Sesi Mengupas Solusi Kehidupan):
-
Identifikasi Sumber Takut: Apakah Anda takut karena uang? Takut karena tanggung jawab? Atau takut karena trauma? “Kita perlu sadari, tidak siapnya ini dalam hal apa?”
-
Konseling Pranikah: Jangan hanya menyiapkan pesta, siapkan juga mentalnya. Konseling membantu membedah masalah yang selama ini dianggap tabu untuk dibicarakan.
-
Kelola Ekspektasi: Hindari kata-kata “selalu” atau “tidak pernah” terhadap pasangan. “Miliki ekspektasi yang wajar, pasangan kita tidak harus sempurna, cukup ‘good enough’ saja.”
Kesimpulan: Menikah Bukan Perlombaan
Pesan paling kuat dari dr. Andreas yang perlu kita renungkan adalah tentang waktu dan ketepatan memilih pasangan.
“Lebih baik telat menikah daripada salah menikah.”
Pernikahan bukanlah kewajiban mutlak untuk semua orang. Jika pilihan Anda adalah tidak menikah dan itu membuat Anda bahagia serta berdaya, itu adalah pilihan yang valid. “Kalian berhak bahagia, baik dalam pernikahan maupun saat sendiri,” tutup dr. Andreas.
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Syifa Hadju dan El Rumi Resmi Tunangan, Netizen: Selamat ya!