Hype  

Membedah Luka “Anak Durhaka”: Ketika Orang Tua Menjadi Sumber Trauma

Orang Tua Menjadi Sumber Trauma
Orang Tua Menjadi Sumber Trauma

Selama puluhan tahun, narasi masyarakat Indonesia hanya mengenal satu arah dalam hubungan vertikal keluarga: anak harus berbakti, dan jika gagal, label “durhaka” segera melekat. Namun, sebuah diskusi mendalam di kanal YouTube Raymond Chin dalam program Escape Episode 3, menghadirkan perspektif yang menggetarkan nurani publik melalui kisah hidup Eky Priyagung.

Diapit oleh tokoh-tokoh seperti Felix Siauw, Koi, dan Verren, Eky menceritakan bagaimana ia tumbuh di tengah “badai” yang seharusnya tidak dirasakan oleh anak-anak.

“Dosa” yang Tidak Dipinta: Tumbuh di Lingkungan Prostitusi

Support orang tua
Support orang tua

Eky Priyagung membuka tabir masa lalunya dengan kejujuran yang brutal. Ia lahir dari seorang ibu yang merupakan korban perdagangan manusia (human trafficking). Sejak kecil, dunianya bukanlah taman bermain yang aman, melainkan hiruk-pikuk lingkungan prostitusi.

“Ibuku termasuk korban dari human trafficking… Aku melihat banyak orang lalu lalang datang dan lain-lain, aku mengisi diriku di dalam kamar dengan baca buku saja,” ungkap Eky mengenang masa kecilnya yang terisolasi di tengah keramaian yang kelam.

Ketabahan Eky menjadi sorotan utama. Banyak orang di posisinya mungkin akan menyerah pada keadaan dan terjebak dalam siklus kriminalitas yang sama. Namun, ia memilih jalur literasi sebagai benteng pertahanan mentalnya.

Pelecehan dan Sumpah di Bawah Al-Qur’an

Puncak dari penderitaan Eky terjadi ketika ia mengalami pelecehan seksual oleh oknum yang seharusnya ia hormati. Lebih traumatis lagi, pelaku menggunakan agama sebagai alat pembungkaman.

“Setelah dilecehkan, disumpah Al-Qur’an kalau aku ngomong aku akan ‘goblok’. Disumpah di Al-Qur’an,” tutur Eky.

Manipulasi spiritual ini adalah bentuk toxic parenting atau otoritas dewasa yang sangat ekstrem, di mana rasa takut ditanamkan untuk menutupi kejahatan. Hal ini memicu diskusi hangat di meja Escape mengenai fenomena “Orang Tua Zalim” yang selama ini menjadi tabu untuk dibicarakan.

Senjata Terakhir: “Kamu Kan Aku yang Lahirin”

Diskusi ini juga menyoroti pola komunikasi orang tua toksik yang sering menggunakan jasa masa lalu sebagai alat kontrol (guilt tripping).

“Teorinya adalah kita kalau masih bisa ber-reasoning, kita nggak akan masuk sampai level mengancam. Berarti ngancam itu sudah sampai pada putus asa… Akhirnya bilang, ‘Kamu kan sudah aku lahirin’.”.

Felix Siauw dan Raymond Chin menggarisbawahi bahwa argumen tersebut sering kali dibalas oleh generasi muda dengan kalimat yang mematikan percakapan: “Aku nggak minta dilahirin.” Kebuntuan komunikasi inilah yang seringkali memicu retaknya hubungan antara anak dan orang tua.

Dari Trauma Menjadi Karya: Filosofi Mangkok Kintsugi

Meski membawa luka yang dalam, Eky membuktikan bahwa “mangkok yang pecah” bisa disatukan kembali dengan emas, merujuk pada seni Kintsugi Jepang. Ia berhasil menembus ketatnya persaingan masuk ITB jurusan DKV dan kini aktif sebagai komika.

Melalui bukunya yang berjudul “Bergur(a)u”, Eky mencoba “menertawakan” traumanya tanpa mengerdilkan rasa sakitnya.

“Buku ini lebih banyak ngomongin tentang tektokan aku sama psikolog aku… Bagaimana harapan tuh masih ada buat menjadi mangkok yang pecah, disatukan, terus dikasih emas,” jelas Eky mengenai proses pemulihan mentalnya.

Kesimpulan: Memutus Rantai Stigma

Kisah Eky Priyagung bukan sekadar curahan hati, melainkan sebuah seruan bagi masyarakat untuk berhenti menutup mata pada kenyataan bahwa tidak semua orang tua menjalankan perannya dengan baik.

Pesan kuat yang ditinggalkan adalah: Latar belakang bukanlah garis finis. Seseorang bisa lahir di lumpur, namun ia punya pilihan untuk tidak menjadi bagian dari lumpur tersebut.

Read More :  Bikin Terharu! Ferdi Ali dan Keluarga Ziarah ke Makam Almarhumah Sasha Yunisha

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *