Di tengah hiruk-pikuk dunia digital yang menuntut validasi instan, muncul sebuah refleksi mendalam tentang apa artinya menjadi manusia yang berkelas dan berdaya.
Dalam sebuah dialog eksklusif di kanal Suara Berkelas, Rori Asyari, mantan pembawa berita yang kini merambah dunia podcasting, membedah filosofi hidupnya tentang pertumbuhan, kesehatan, hingga keberanian memutus rantai ekspektasi sosial.
Daftar Isi
Candu pada Pertumbuhan (Self-Improvement)

Bagi banyak orang, posisi sebagai anchor utama di stasiun televisi berita nasional adalah puncak karier. Namun bagi Rori, kenyamanan adalah alarm bahaya. Ia percaya bahwa di dalam zona nyaman, tidak ada ruang bagi pertumbuhan.
“Be addicted to constant and never-ending self-improvement. Di zona nyaman, aku tidak menemukan hal yang baru lagi. Di situlah aku memutuskan: saatnya keluar dan meng-adjust passion kita,” ujar Rori dengan tegas.
Ia menekankan bahwa passion bukanlah sesuatu yang ditemukan secara ajaib, melainkan dibentuk melalui jatuh bangun dan penyesuaian terus-menerus.
Revolusi dari Atas Piring

Satu poin unik yang ditekankan Rori adalah kaitan erat antara apa yang kita makan dengan bagaimana kita berpikir. Di dunia yang serba instan, ia memilih jalan “sunyi” dengan kembali ke real food.
“Kita adalah apa yang kita makan. Ketika kita salah pola makan, ia menjalar ke mana-mana—ke tidur, ke hormon, hingga ke pola pikir. Mindset dan pola makan punya keterikatan; ketika kita disiplin makan, kita akan disiplin untuk hal-hal lain,” paparnya.
Rori menyarankan bagi mereka yang ingin membenahi hidup di usia 30-an, mulailah dari meja makan. Hindari makanan ultra-proses (UPF) dan fokus pada gizi seimbang sebagai fondasi kesehatan mental.
Melepas Belenggu Validasi dan Teman Toxic

Menariknya, Rori secara terbuka mengakui penyesalan masa lalunya saat terlalu memanjakan inner child dengan konsumerisme demi pengakuan sosial. Ia sempat terjebak pada pemikiran bahwa ia harus memiliki barang mewah agar diterima di lingkaran tertentu.
Kini, ia lebih memilih close circle yang berkualitas daripada kuantitas pertemanan yang dangkal. Terkait pandangan negatif orang lain, Rori mengutip prinsip stoikisme yang ia jalani:
“Let them. Biarkan mereka berpikiran apa pun karena itu di luar kontrol kita. Fokus pada ‘Let me’—biarkan aku mengontrol apa yang aku pikirkan, lakukan, dan ucapkan.”
Ketakutan adalah Bahan Bakar

Bagi mereka yang kerap merasa cemas saat tampil di publik (glossophobia), Rori membagikan teknik kognitif yang ia pelajari selama belasan tahun di dunia penyiaran. Ia menyarankan untuk mengubah narasi “gugup” menjadi “antusias”.
“Stimulasi antara ketakutan (nervousness) dan antusiasme (excitement) itu sama: jantung berdebar dan keringat dingin. Cukup ubah mindset-nya. Jangan berpikir ‘bagaimana kalau gagal’, tapi pikirkan ‘bagaimana kalau berhasil’.”
Inspirasi dari Sang Ibu: Kekuatan Bertarung
Puncak dari filosofi hidup Rori ternyata berakar dari sang ibu. Ia menceritakan bagaimana ibunya bertahan dalam kesulitan hidup dan pengorbanan luar biasa, termasuk menempuh perjalanan 6 jam setiap hari demi pekerjaan.
Ketangguhan itu pula yang membuat Rori percaya bahwa hidup adalah tentang ketahanan. Kisah ibunya yang menemukan kebahagiaan sejati dan menikah kembali di usia 65 tahun menjadi bukti bahwa penderitaan tidak pernah sia-sia jika dihadapi dengan mentalitas petarung.
Kesimpulan untuk Pembaca: Hidup yang berkelas bukan tentang kemewahan yang tampak di layar ponsel, melainkan tentang keberanian untuk terus memperbaiki diri, menjaga apa yang masuk ke dalam tubuh, dan memiliki kedaulatan penuh atas pikiran sendiri dari bisingnya ekspektasi dunia.
Kamu juga bisa membaca artikel menarik lainnya seperti Membedah Luka “Anak Durhaka”: Ketika Orang Tua Menjadi Sumber Trauma