Lonjakan jumlah investor ritel di Indonesia yang kini mendekati angka 20 juta jiwa membawa fenomena baru dalam lanskap ekonomi nasional. Namun, di balik angka pertumbuhan yang masif tersebut, tersimpan sebuah ironi: banyak investor terjebak dalam siklus “masuk karena tren, keluar karena tumbang.”
Dalam diskusi panel Kongkow Bandar yang dipandu oleh Yudha Keling, sejumlah tokoh lintas generasi—mulai dari investor kawakan Bambang Susanto hingga edukator Michael Yeoh dan Theo Derick—membongkar mengapa banyak investor ritel sulit naik kelas.
Daftar Isi
Jebakan “Cuan” dan Minimnya Fondasi

Bagi Michael Yeoh, masalah utama ritel saat ini adalah orientasi yang keliru. Investor seringkali hanya mencintai hasilnya, bukan prosesnya.
“Masalahnya mereka cuma mau gulanya, mereka enggak benar-benar suka stock market-nya. Sukanya cuannya doang. Ketika ketemu halangan atau hal susah, mereka nyerah,” ujar Michael Yeoh.
Senada dengan Michael, Theo Derick menyoroti bahwa banyak orang menjadikan investasi sebagai “pelarian” dari kesulitan ekonomi tanpa membangun pondasi finansial yang kuat. Menurutnya, investasi adalah tahap akhir dari pengelolaan kekayaan, bukan langkah awal untuk menjadi kaya secara instan.
“Investment itu adalah capital gain dan tahap terakhir. Kalau mau meningkatkan hidup, yang diubah adalah penghasilannya dulu diperbesar, bangun pondasi finansial, baru masuk ke investment,” tegas Theo.
Pergeseran Zaman: Dari Riset PDF ke Narasi “Gosip”

Investor senior sekaligus pendiri Waterfront, Bambang Susanto, memberikan perspektif menarik mengenai perubahan pasar selama 35 tahun terakhir. Jika dulu riset fundamental (seperti rasio PE) adalah “kitab suci”, kini pasar digerakkan oleh narasi dan aliran dana besar (big money).
“Dulu riset itu dibaca sangat dalam. Sekarang, saya instruksikan tidak perlu (terlalu kaku pada riset konvensional). Zamannya sudah beda. Mending cari gosip, karena research sekarang berubah jadi gosip,” seloroh Bambang menggambarkan betapa dinamisnya pergerakan pasar saat ini.
Ia juga mengingatkan satu mantra penting yang sering dilupakan ritel demi ego: “Cintailah cut loss.” Baginya, membuang kerugian kecil adalah cara terbaik untuk menyelamatkan kesempatan besar lainnya.
Optimisme 2025-2026: Kebangkitan Emerging Markets

Meski pasar terasa penuh spekulasi, Michael Yeoh melihat adanya peluang emas di tahun 2025-2026. Ia mencatat bahwa setelah 16 tahun didominasi oleh pasar Amerika (S&P 500), kini giliran emerging markets seperti Indonesia untuk bersinar.
“Di tahun 2025 ini adalah tahun pertama emerging market mengungguli S&P. Berdasarkan siklus, biasanya ini bertahan minimal 5 tahun,” jelas Michael optimis bahwa level IHSG saat ini bukanlah puncak tertinggi.
Sektor perbankan pun disebut sebagai “jangkar” yang kuat. Dengan valuasi yang berada di titik terendah dalam 10 tahun terakhir namun memberikan dividen tinggi, saham blue chip Indonesia dianggap sangat murah bagi investor asing yang mulai melirik kembali ke pasar domestik.
Pesan untuk Investor Muda
Menutup diskusi, para panelis sepakat bahwa kunci keberhasilan di pasar modal bukan hanya soal teknis, melainkan psikologi. Jeremy Owen, mewakili generasi muda, menekankan pentingnya membiasakan diri dengan volatilitas pasar sebelum terjun dengan modal besar.
Bambang Susanto memberikan kalimat penutup yang filosofis ketika ditanya mengapa dirinya masih aktif meski secara materi sudah sangat berkecukupan:
“Kalau semua berpendapat (untuk berhenti ketika cukup) seperti kamu, dunia ini enggak akan maju,” pungkasnya.
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Kaya Bersyukur vs Miskin Sabar: Membedah Etos Kerja Muslim di Era Modern