Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa kenangan menyakitkan di masa lalu terasa begitu sulit untuk dihapus? Mengapa pujian dari seratus orang bisa kalah telak oleh satu hinaan yang terus terngiang di kepala?
Dalam podcast terbaru Suara Berkelas, Trisa Triandesa, seorang komunikator neurosains, membedah rahasia di balik kerumitan otak manusia.
Daftar Isi
1. Mitos Menghapus Kenangan: Tidak Ada Tombol “Delete”
Banyak orang terjebak dalam upaya melelahkan untuk melupakan masa lalu. Namun, secara biologis, itu adalah hal yang mustahil.
“Otak kita itu dirancang untuk survival (bertahan hidup), bukan untuk bahagia selalu. Memang tidak ada tombol ‘delete’ di otak kita.”
Kenangan yang memiliki muatan emosional kuat—seperti rasa sakit, kegagalan, atau trauma—akan disimpan lebih rapat oleh otak. Ini adalah mekanisme pertahanan diri agar kita tidak jatuh ke lubang yang sama di masa depan.
2. Dari Moving On Menuju Moving Forward
Trisa menawarkan paradigma baru yang lebih sehat daripada sekadar istilah “move on” yang sering kali diartikan sebagai upaya melupakan.
“Pendekatannya jangan move on, tapi moving forward. Kita melangkah maju dengan pengalaman yang sudah kita punya, memaknai pengalaman buruk tersebut sebagai pelajaran.”
Dengan moving forward, kita mengakui bahwa masa lalu adalah bagian dari identitas kita, namun bukan penentu masa depan kita. Kita tidak berlari dari kenyataan, melainkan berjalan melaluinya.
3. Memahami Negativity Bias: Mengapa Kita “Hobi” Sedih?
Pernah merasa diri Anda terlalu pesimis? Ternyata, itu adalah setelan pabrik otak manusia yang disebut Negativity Bias.
“Kita lebih cenderung melihat hal yang negatif daripada hal yang positif… tujuannya mulia, yaitu untuk melindungi kita.”
Amigdala, bagian kecil di otak, selalu waspada terhadap ancaman. Masalahnya, di dunia modern, “ancaman” ini sering kali bukan lagi hewan buas, melainkan komentar negatif atau ketakutan akan kegagalan yang akhirnya membuat kita overthinking.
4. Kekuatan Neuroplastisitas: Harapan untuk Berubah
Meskipun otak punya kecenderungan negatif, kabar baiknya adalah otak kita sangat lentur (neuroplasticity).
“Neuroplasticity adalah kemampuan otak kita untuk berubah dan membentuk jalur saraf yang baru. Setiap otak bisa melakukan itu.”
Artinya, kita bisa “melatih” ulang otak kita. Jika selama ini kita terbiasa dengan negative self-talk, kita bisa membangun jalur baru dengan terus konsisten memberikan afirmasi yang realistis dan konstruktif kepada diri sendiri.
5. Melawan Overthinking dengan Napas dan Jurnal
Trisa memberikan tips praktis bagi mereka yang sering terjebak dalam pikiran berulang di malam hari:
-
Box Breathing: “Tarik napas 4 detik, tahan 4 detik, buang 4 detik, tahan 4 detik. Ini ngebantu kalibrasi tubuh dan pikiran.”
-
Brain Dump: “Ambil buku, tuliskan apa saja yang ada di pikiran. Ketika mengubahnya ke dalam bentuk tulisan, itu menjadi lebih tangible (nyata) dan kita bisa melihatnya secara logis.”
6. Kebahagiaan Bukanlah Tujuan Akhir
Salah satu kutipan paling kuat dalam diskusi ini adalah bagaimana kita memandang kebahagiaan itu sendiri.
“Bahagia itu bukan tujuan. Bahagia itu adalah melakukan apa yang kita sukai, apa yang kita bisa, dan apa yang membuat kita merasa menjadi diri kita sendiri.”
Kebahagiaan bukan sesuatu yang dicari di masa depan, melainkan sesuatu yang dilakukan dan disadari pada momen saat ini.
Kesimpulan Memahami otak bukan berarti kita menjadi kebal terhadap rasa sakit. Trisa sendiri mengakui bahwa meski ia ahli di bidang ini, ia pun berjuang dengan depresi dan kecemasan. Namun, dengan ilmu pengetahuan, kita memiliki “alat” untuk berlayar di tengah badai emosi.