Bogor seolah tidak pernah kehabisan cara untuk jatuh cinta. Kali ini, pesonanya bersembunyi di balik kabut Puncak Awan Gunung Pasir Ipis dengan ketinggian 1.350 Mdpl. Menuju puncaknya adalah sebuah perjalanan menembus rimbunnya hutan, di mana setiap tanjakan terasa seperti ujian kecil bagi paru-paru kita.
Meski jalurnya menuntut fokus, ia tetap lebih ramah dibanding ‘kejamnya’ tanjakan Puncak Khayangan dan Curug Sejoli Bogor. Begitu sampai di atas, lelah itu seketika luruh. Di ketinggian 1.350 Mdpl, kamu bukan lagi penonton, melainkan bagian dari lukisan alam yang luar biasa. Penasaran dengan bagaimana kisah perjalana olret liburan?
Yuk, simak cerita perjalanan saya bersama dengan open trip ini.
Daftar Isi
- 1 Dari Cibubur Dengan Transjakarta, Dilanjutkan Commuter Line Bogor dan Angkot ke Sukamakmur.
- 2 Gerbang Pendakian Puncak Awan Gunung Pasir Ipis Bogor – Pos 1 (23 Menit)
- 3 Pos 1 Puncak Awan Gunung Pasir Ipis Bogor – Pos 2 (37 Menit)
- 4 Pos 2 Puncak Awan Gunung Pasir Ipis Bogor – Pos Puncak Bayangan (10 Menit)
- 5 Pos Puncak Bayangan Menuju Pasir Ipis 1.350 Mdpl Bogor.
- 6 Ujian Lutut di Jalan Pulang
- 7 Pendakian Puncak Awan Gunung Pasir Ipis Bogor, Bonus Curug Sawer dan Curug Naga Biru.
Dari Cibubur Dengan Transjakarta, Dilanjutkan Commuter Line Bogor dan Angkot ke Sukamakmur.

Pagi masih buta ketika saya memacu motor dari Kranggan. Di saat sebagian kota masih terlelap, misi saya sudah dimulai: menuju negeri di atas awan.
Titik awal petualangan ini adalah Halte Transjakarta Cibubur. Dari sana, bus meluncur membelah Tol Dalam Kota menuju Cawang BKN. Transisi antar moda transportasi ini terasa seperti sebuah tarian rutin yang efisien; dari busway, saya melangkah mantap menuju Stasiun Cawang untuk berpindah ke primadona transportasi publik kita: Commuter Line.
Ada alasan mengapa kereta menuju Bogor selalu menjadi kebanggaan. Di saat aspal jalanan mulai terkunci kemacetan, saya justru duduk manis menikmati pemandangan yang melesat di balik jendela. Hanya dalam 50 menit, tapak kaki saya sudah menyentuh peron Stasiun Bogor.
Wangi roti yang baru matang di area stasiun mendadak menjadi godaan yang tak terbendung. Sebelum tenaga terkuras di tanjakan, saya memutuskan untuk “mengisi bahan bakar” sejenak—menikmati sarapan kilat dan membungkus beberapa perbekalan untuk di atas sana.
Setelah tim lengkap berkumpul, petualangan yang sesungguhnya dimulai. Kami menyewa satu angkot untuk membawa kami menuju Sukamakmur.
Perjalanan 90 menit menuju basecamp adalah sebuah simulasi emosi. Kadang kami melaju mulus di atas aspal yang baru, namun tak jarang pula kami harus berpegangan erat saat ban angkot menghajar jalanan yang mulai “bertekstur”. Di balik jendela angkot, lanskap Bogor mulai berubah dari beton perkotaan menjadi hijaunya perbukitan yang menyegarkan mata.
Hingga akhirnya, moncong angkot kami berhenti tepat di kaki Puncak Awan Gunung Pasir Ipis. Di titik inilah, urusan mesin selesai, dan tenaga kaki kami yang mulai mengambil alih cerita.
Gerbang Pendakian Puncak Awan Gunung Pasir Ipis Bogor – Pos 1 (23 Menit)

Setelah doa bersama dipanjatkan—sebuah permohonan tulus agar langkah kami dijaga hingga kembali ke rumah nanti—kami pun mulai menapakkan kaki di gerbang pendakian. Petualangan di Gunung Pasir Ipis resmi dimulai.
Perjalanan menuju Pos 1 terasa seperti sebuah pemanasan yang menyenangkan. Alih-alih terburu-buru, kami memilih untuk menikmati setiap detiknya. Dengan langkah santai, kami menghabiskan waktu sekitar 23 menit untuk sampai di titik pemberhentian pertama.
Angka itu sudah termasuk “bonus” berhenti berkali-kali hanya untuk mengabadikan lanskap indah yang terlalu sayang jika hanya disimpan dalam ingatan. Di awal trek, alam seolah menyambut kami dengan ramah. Jalurnya memang menanjak, namun tetap bersahabat dengan susunan batu dan tanah yang tertata rapi, memudahkan setiap pijakan.
Sepanjang mata memandang, kami ditemani oleh barisan pohon yang menjulang tinggi, seolah menjadi pilar-pilar raksasa yang memayungi perjalanan. Di sela-selanya, tanaman kopi tumbuh subur, menyapa kami dengan aroma khas pegunungan yang menenangkan.
Rasanya benar-benar menyegarkan. Karena tubuh masih bugar dan semangat masih membara, rintangan di tahap awal ini hampir tak terasa. Kami mengobrol, tertawa, dan sesekali sibuk membidik kamera ke arah sudut-sudut estetik di sepanjang jalur. Pos 1 berhasil kami capai tanpa kendala berarti—sebuah awal yang sempurna sebelum menghadapi tantangan yang sesungguhnya di depan sana.
Pos 1 Puncak Awan Gunung Pasir Ipis Bogor – Pos 2 (37 Menit)

Hanya tiga menit. Waktu yang sangat singkat untuk sekadar mengambil dokumentasi di Pos 1, karena antusiasme kami jauh lebih besar daripada rasa lelah. Tanpa sempat duduk bersandar, kami kembali mengayunkan kaki, menyusuri jalur setapak yang masih tertata rapi.
Langkah demi langkah membawa kami pada tantangan baru: deretan anak tangga buatan pengelola yang mulai menanjak tajam. Meski otot kaki mulai bekerja lebih keras, semangat kami justru sedang berada di puncaknya. Di tengah trek yang sesekali diselingi bebatuan alami ini, alam memberikan kejutan kecilnya. Gerimis manis mulai turun.
Bukannya mengganggu, tetesan air langit ini justru mengubah suasana hutan menjadi begitu magis. Aroma tanah basah (petrichor) bercampur dengan hawa dingin yang mulai menusuk kulit, menciptakan atmosfer pendakian yang syahdu.
Sepanjang perjalanan menuju Pos 2, ritme kami mulai melambat secara alami. Sesekali kami berhenti, bukan hanya untuk mengatur napas, tapi untuk memastikan tak ada satu pun kawan yang tertinggal di belakang. Begitu rombongan belakang terlihat, beberapa dari kami segera memacu langkah kembali, menembus rimbunnya hutan hingga akhirnya atap sebuah pondok terlihat di kejauhan.
Berbeda dengan Pos 1 yang sederhana, Pos 2 adalah oase yang sesungguhnya. Di sini berdiri sebuah gazebo atau pondok kayu yang kokoh—tempat sempurna untuk melepas beban kerir sejenak. Di bawah naungan pondok ini, kami memutuskan untuk beristirahat cukup lama, menikmati momen kebersamaan sambil menunggu seluruh anggota tim berkumpul lengkap sebelum menghadapi rute pamungkas.
Pos 2 Puncak Awan Gunung Pasir Ipis Bogor – Pos Puncak Bayangan (10 Menit)

Alih-alih langsung menuju puncak, jiwa petualang kami justru membawa kami berbelok menuju simfoni air terjun: Curug Sawer dan Curug Naga Biru. Namun, siapa sangka, jalur ini ternyata menjadi babak paling “berantakan” sekaligus berkesan dalam perjalanan kami.
Trekking menuju curug ternyata adalah sebuah ujian fisik yang sesungguhnya. Jalur yang panjang dan licin memaksa kami untuk ekstra waspada, meski akhirnya “hukum alam” tetap berlaku: beberapa kali kami jatuh tersungkur. Pakaian yang semula bersih kini berubah warna menjadi cokelat tanah, sebuah medali kehormatan bagi para petualang.
Namun, semua lelah itu terbayar lunas saat kami tiba di Curug Naga Biru. Memiliki ketinggian sekitar 160 meter, air terjun ini menawarkan kesegaran yang menusuk tulang. Kami pun membiarkan diri kami larut dalam dinginnya air, membilas semua penat dan sisa tanah yang menempel di tubuh.
Melihat kondisi jalur yang semakin licin pasca hujan, kami membuat keputusan realistis untuk melewatkan Puncak Awan dan langsung mengalihkan kompas menuju Puncak Gunung Pasir Ipis.
Jika sebelumnya kami masih bisa tertawa, perjalanan dari Pos 2 ke puncak kali ini benar-benar menuntut keseriusan. Jangan harap ada “trek bonus” berupa jalanan landai; yang ada hanyalah tanjakan vertikal yang seolah tak ada habisnya. Vegetasi di sini semakin rapat, hutan semakin gelap, dan pohon-pohon raksasa yang menjulang tinggi menjadi saksi bisu napas kami yang mulai terengah-engah.
Hutan ini terasa begitu liar dan murni. Setiap tarikan napas adalah perjuangan, hingga akhirnya sebuah area terbuka kecil muncul di depan mata—Pos Bayangan. Di sinilah kami ambruk sejenak, memulihkan tenaga yang hampir terkuras habis, sambil mempersiapkan mental untuk langkah-langkah terakhir menuju titik tertinggi.
Pos Puncak Bayangan Menuju Pasir Ipis 1.350 Mdpl Bogor.

Setelah perjuangan fisik yang menguras sisa-sisa tenaga, alam akhirnya memberikan “hadiah” yang paling manis. Dari pos bayangan menuju titik tertinggi, jalur yang tadinya vertikal mendadak berubah menjadi landai—sebuah bonus yang disambut sorak sorai kecil dari dalam hati.
Hanya butuh waktu lima menit berjalan santai di bawah naungan pohon-pohon raksasa yang syahdu, kami pun akhirnya menapakkan kaki di Puncak Gunung Pasir Ipis. Di sini, suasana berubah drastis. Kabut tipis yang menari di antara batang pohon memberikan kesan magis, seolah kami sedang berada di set film fantasi.
Puncaknya dihiasi berbagai spot estetik, mulai dari papan penanda puncak hingga pepohonan dengan rongga alami yang terlihat sangat ikonik. Namun, sudut favorit saya tetaplah sebuah tempat duduk sederhana di tepian tebing. Di sanalah saya terpaku, memandangi samudera awan sore hari yang perlahan menyelimuti lembah.
Keajaiban justru muncul setelah hujan. Langit yang bersih menyuguhkan pemandangan yang tak masuk akal indahnya: hamparan pegunungan yang berlapis-lapis di kejauhan, kontras dengan hijau pekat hutan yang basah, dan awan putih yang mengalun tenang. Itu adalah momen “pembayaran” tunai atas setiap peluh dan pakaian yang kotor oleh tanah.
Ujian Lutut di Jalan Pulang
Namun, setiap perjalanan ada akhirnya. Kami memilih jalur yang berbeda untuk kembali ke basecamp, sebuah rute yang ternyata menjadi ujian terakhir bagi persendian kami. Jika saat naik paru-paru yang diuji, saat turun, lututlah yang dipaksa bekerja keras.
Jalur pulang ini didominasi oleh ribuan anak tangga dan turunan berbatu yang seolah tanpa jeda. Selama 60 menit, kami harus menjaga keseimbangan agar tidak tergelincir di atas trek yang masih lembap. Meskipun kaki mulai terasa lemas dan bergetar, semangat kami tetap terjaga hingga akhirnya atap basecamp kembali terlihat di pelupuk mata.
Petualangan hari itu ditutup dengan tubuh yang lelah, pakaian yang penuh noda tanah, namun dengan memori yang terisi penuh oleh kemegahan alam Bogor.
Pendakian Puncak Awan Gunung Pasir Ipis Bogor, Bonus Curug Sawer dan Curug Naga Biru.
Untuk menikmati puncak awan gunung pasir ipis dan curug naga biru ini, berikut ini biaya-biaya yang saya keluarkan. Biaya-biaya ini tergantung pengeluaran masing-masing ya.
- Transjakarta Cibubur Cawang Rp. 3.500
- KRL Cawang Bogor – Bogor Depok Baru Rp. 10.000
- Sarapan Rp. 30.000
- Biaya Open Trip Rp. 200.000
- Makan Siang Rp. 15.000
- Oleh-Oleh Lapis Talas Bogor Sangkuriang Rp. 108.000
- Angkot Depok Menuju Jalan Raya Bogor Rp. 15.000
- Gojek Jalan Raya Bogor Cibubur Junction Rp. 23.000
- Parkiran Rp. 5.000
- Total Rp. 409.500