Rahasia Jodoh Langgeng: Ini 3 Kesalahan yang Bikin Pernikahan Gagal

Rahasia Jodoh Langgeng
Rahasia Jodoh Langgeng

Mencari Jodoh Tak Cukup dengan Cinta: Kenali 3 Kesalahan Fatal Sebelum Menikah dan Rahasia Hubungan Langgeng dari Matchmaker Profesional

Kita sering mendengar bahwa cinta saja sudah cukup sebagai modal menikah. Namun, praktisi kecerdasan emosi dan matchmaker profesional, Coach Anes, punya pandangan berbeda. Dalam wawancaranya bersama Rory Asyari, ia membeberkan bahwa pernikahan bukan tentang sliding (mengikuti arus), melainkan tentang deciding (membuat keputusan sadar).

Dari pengalaman pribadinya menemukan jodoh setelah bertemu 23 pria dan menjalankan bisnis perjodohan high-profile, Coach Anes mengungkap 3 kesalahan fundamental yang sering dilakukan pasangan sebelum dan saat menikah.

Kesalahan Fatal #1: Mengejar Pasangan Ideal, Bukan Visi Hubungan

Kata yang Mendekatkan Pasangan
Kata yang Mendekatkan Pasangan

Banyak orang membuat daftar kriteria pasangan ideal: kaya, tampan, sabar, dan sukses. Namun, Coach Anes menekankan bahwa ini adalah kesalahan besar.

“Kalau kita cuma terbatas kepada orang yang gua penginin seperti ini, one day orang ini bisa berubah. Dan ketika orang ini berubah, kamu bakal mikir, ‘Ini bukan orang yang gue nikahin. Dia enggak sama kayak dulu.’ Akhirnya apa yang terjadi? Cerai,” ungkapnya.

Solusinya: Temukan Relationship Vision

Jangkar pernikahan yang sesungguhnya adalah visi hubungan yang ingin dibangun bersama. Tanyakan pada diri sendiri:

Jenis hubungan seperti apa yang saya inginkan? (Cth: Fleksibel, suportif dalam bisnis, penuh kualitas waktu, dll.)

Bagaimana nilai-nilai (motivational values) kami cocok atau saling melengkapi? (Cth: Jangan sampai satu orang sangat prososial, sementara pasangannya sangat power-oriented atau matrealistis.)

Dengan menetapkan visi ini, fokus tidak lagi pada fisik atau status sementara pasangan, melainkan pada kemitraan jangka panjang.

Kesalahan Fatal #2: Hanya Menguasai Love Language, Mengabaikan Conflict Language

67be7fe0daca8 ilustrasi pasangan yang sedang diabaikan banyuwangi

Semua orang tahu tentang Love Language—cara memberi dan menerima kasih sayang. Tapi bagaimana dengan cara Anda bertengkar?

Coach Anes menyebutkan bahwa indikasi hubungan sehat bukan terletak pada seberapa sering Anda ribut, melainkan pada bagaimana Anda ribut.

Mitos: Kalau sering ribut, berarti hubungan tidak sehat.

Fakta: “Kalau ributnya tujuannya untuk menyamakan persepsi, untuk mengkoneksikan satu sama lain, untuk kita being vulnerable bareng… maka it’s a very good and healthy conflict,” tegasnya.

Hubungan yang langgeng dan sehat ditandai dengan partnership (kemitraan). Artinya, Anda dan pasangan adalah sahabat. Anda harus berani mengungkapkan perasaan (tidak ada rahasia) dan menguasai Conflict Language yang sehat, menjauhkan diri dari kekerasan fisik, manipulatif mental, atau peremehan intelektual.

Kesalahan Fatal #3: Menikah Tanpa Stabilitas Emosional dan Finansial

Hubungan percintaan sehat
Hubungan percintaan sehat

Di segmen rapid fire, Coach Anes menyebutkan bahwa kesiapan menikah ukurannya adalah stabilitas. Mengacu pada hirarki kebutuhan, stabilitas utama yang dibutuhkan adalah:

Keamanan Hidup (Finansial): Memiliki dasar ekonomi yang stabil.

Stabilitas Emosional: Mengenal diri sendiri, tahu apa yang diinginkan, dan mampu mengelola emosi.

Coach Anes menyarankan untuk menjauhi mentalitas sliding—menikah hanya karena tuntutan sosial atau usia—tanpa visi yang jelas.

“Kalau cinta sudah ada tapi saldo belum ada, mending jalanin bareng dulu,” sarannya, karena uang akan mengikuti jika niat dan usaha sudah disatukan.

Catatan Penting: Stigma Perceraian

Kekurangan Pasangan
Kekurangan Pasangan

Coach Anes juga menanggapi stigma negatif pada orang yang bercerai. Ia menegaskan bahwa tidak fair menyebut orang yang bercerai itu gagal atau bermasalah.

Bercerai bisa jadi adalah keputusan paling sehat (the healthiest) yang harus diambil seseorang, terutama jika ia berada dalam hubungan toksik yang membahayakan. Daripada terus terperangkap dalam hubungan yang merusak, mengambil langkah berpisah adalah bentuk tanggung jawab diri.

Pelajaran Kunci dari Matchmaker

Berhenti Possessive Pada Pasangan
Berhenti Possessive Pada Pasangan

Untuk Anda yang sedang mencari jodoh atau berada di tengah pernikahan, Coach Anes meninggalkan satu saran krusial:

“Find your soul, found your mate.”

Mulailah dari mengenali diri kamu sendiri: Siapa kamu? Apa yang kamu inginkan? Apa yang masih jadi struggle kamu saat ini? Know that authentic self.

Ketika Anda sudah tahu siapa diri Anda yang sesungguhnya, akan lebih mudah menemukan pasangan yang benar-benar cocok dan membangun visi hubungan yang kokoh, bukan sekadar cinta yang fluktuatif.

Kamu juga bisa membaca artikel hubungan menarik kami lainnya seperti Rumput Tetangga Lebih Hijau? Cek Dulu “Tagihan Airnya”! Inilah Tanda Kamu Sudah Benar-Benar Dewasa

Read More :  Menikah Bukan Hanya Menyatukan Aku dan Kamu Tapi Tentang Keluarga Kita Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *