Semakin Tinggi, Semakin Sepi: Fakta Pahit Kesuksesan di Usia 20-an ala Jerome Polin

Jerome Polin
Jerome Polin

Siapa tak kenal Jerome Polin? Content creator yang identik dengan matematika dan keceriaan ini sering dipandang sebagai representasi ideal anak muda yang sukses. Namun, di balik jutaan views dan bisnis yang meluas, ada realita pahit yang jarang terungkap: kesepian dan perjuangan melawan idealisme diri sendiri.

Dalam wawancara terbarunya di kanal SUARA BERKELAS, Jerom Polin membuka tirai kehidupan yang ia sebut sebagai fase “Semakin Tinggi, Semakin Kesepian.”

Perang Melawan Sang Perfeksionis: Dari 1 Jadi 5

Jerome Polin
Jerome Polin

Bagi Jerom, kesuksesan terbesarnya bukanlah jumlah subscribers, melainkan kemampuannya untuk beradaptasi dan mendelegasikan tugas.

Selama bertahun-tahun, ia adalah seorang perfeksionis total. Tumbuh di lingkungan yang membuatnya harus mengerjakan semua tugas kelompok sendirian, ia terbiasa melakukan segalanya—mulai dari bikin konten, thumbnail, hingga mengedit—sendiri.

Namun, ia menyadari satu hal kunci: “Perfection is a stagnation.”

“Sangat susah untuk aku kasih kerjaan ke orang lain, tapi aku belajar banyak untuk mendelegasikan tugas. Ternyata, dengan kita punya tim, itu bukan jadi , tapi jadi .”

Pergeseran mindset ini memungkinkannya membangun tim hingga 40 orang lebih. Langkah pertamanya untuk berubah? Menurunkan ego dan mengakui bahwa ia bukan yang paling benar atau paling pintar.

Tamparan Realita: Ketika Branding Tak Mampu Menjual

Kesuksesan beruntun dalam konten dan bisnis awal membuatnya terbiasa dengan hasil yang eksplosif. Namun, tamparan terkeras datang ketika ia mendirikan Mantap Akademi, bisnis bimbingan belajar dengan idealisme tinggi untuk membuatnya offline.

Jerom punya keyakinan penuh, karena matematika adalah branding-nya. Namun, realita berkata lain:

  • Ia membutuhkan setidaknya 100 murid untuk menutup biaya operasional.
  • Saat launching, hanya 20 orang yang mendaftar.

“Padahal ini program bagus banget. Aku sampai turun langsung bagi-bagi brosur di sekolah-sekolah dan mall. Tapi akhirnya cuma 30 orang.”

Momen ini menjadi pembelajaran krusial: idealisme yang terlalu tinggi tanpa adaptasi pasar akan menghambat. Ia akhirnya harus mengubah model bisnisnya, beradaptasi dengan kebutuhan murid, dan membuatnya online.

Harga Paling Mahal: Takut untuk Berteman

Jerome Polin mengakui secara jujur bahwa fase paling sulit dan menyepikan datang ketika ia kembali ke Indonesia setelah lulus dari Jepang. Ia harus memulai pertemanan dari nol, tetapi kali ini, posisinya berbeda.

Ia mengalami apa yang disebutnya sebagai krisis. Ia menjadi takut untuk berteman karena alasan sederhana:

“Kenal sama orang itu aku udah enggak tahu motifnya apa. Aku berkali-kali ngerasain itu sampai akhirnya aku takut untuk berteman.”

Setiap perkenalan baru terasa seperti transaksional. Rasa cemas selalu muncul, khawatir pertemanan akan segera berubah menjadi pembicaraan bisnis. Di puncak popularitas, ia bahkan menyadari bahwa ia tidak punya teman yang benar-benar murni teman, tanpa ada hubungan pekerjaan.

Kesepian ini begitu nyata, hingga Jerom menjadikan “berteman” sebagai salah satu resolusi utamanya. Ia mencari pelarian positif melalui olahraga Padel, di mana ia bisa berinteraksi dan mengobrol tanpa membahas fame atau pekerjaan. Ia bahkan sengaja menyembunyikan identitasnya sebagai content creator saat bertemu orang baru, karena ia tahu, sebutkan nama dan statusnya, dan suasana akan langsung berubah.

Kisah Jerom Polin ini menjadi pengingat bagi setiap anak muda yang merayakan kesuksesan di usia 20-an: perjalanan ke puncak tidak hanya diisi dengan tepuk tangan, tetapi juga dibayar dengan isolasi dan perjuangan pribadi yang harus diatasi dengan kerendahan hati dan adaptasi.

Kamu juga bisa membaca artikel menarik lainnya seperti Rumput Tetangga Lebih Hijau? Cek Dulu “Tagihan Airnya”! Inilah Tanda Kamu Sudah Benar-Benar Dewasa

Read More :  8 Ciri-Ciri Wanita Yang Setia dan Mau Berkomitmen

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *