Olret.id – Saat bulan Ramadan tiba, masjid-masjid dipenuhi oleh semangat ibadah. Namun, ada satu pemandangan yang tak asing: shalat Tarawih yang dilakukan secepat kilat. Gerakan rukuk dan sujud seperti lari maraton, bacaan Al-Fatihah dan ayat-ayat pendek terdengar seperti gumaman yang diburu waktu. Banyak yang mengira, semakin cepat selesai, semakin banyak rakaat yang bisa diselesaikan, semakin baik.
Namun, Ustadz Syafiq Riza Basalamah dalam ceramahnya memberi peringatan keras: cara shalat seperti ini bisa membuat ibadah kita sia-sia. Lantas, di mana letak kesalahannya?
Melupakan Tumakninah: Jantung dalam Shalat

Menurut Ustadz Syafiq, masalah utama dari shalat yang tergesa-gesa adalah tidak adanya tumakninah. Tumakninah adalah rukun shalat yang sering dilupakan, yaitu ketenangan dan kembalinya setiap anggota tubuh ke posisi seharusnya sebelum beralih ke gerakan berikutnya.
Bayangkan saat Anda rukuk. Tumakninah berarti punggung Anda lurus sempurna, tangan Anda menggenggam lutut dengan mantap, dan Anda berdiam sejenak sebelum bangkit. Bukan hanya sekadar membungkuk dan langsung tegak kembali.
Ustadz Syafiq mengutip sebuah hadis yang sangat menyentak: ada seorang pria yang shalat selama 60 tahun namun tidak ada satu pun shalatnya yang diterima. Kenapa? Karena dia tidak pernah melakukan rukuk dan sujudnya dengan sempurna.
Shalat bukanlah serangkaian gerakan senam, melainkan percakapan personal dengan Allah. Dengan terburu-buru, kita seperti sedang berbicara dengan seseorang tanpa mendengarkan jawabannya, tanpa fokus, bahkan tanpa sempat mengambil nafas. Bukankah lebih baik shalat dengan penuh ketenangan daripada sekadar menyelesaikannya secepat mungkin?
Kualitas di Atas Kuantitas: Prioritas Utama Tarawih
Khususnya untuk shalat Tarawih, Ustadz Syafiq Riza Basalamah memberikan solusi yang sangat praktis dan mendalam. Lupakan perlombaan jumlah rakaat. Tidak harus 23 atau 11 rakaat. Lebih baik shalat 5 rakaat dengan penuh tumakninah, khusyuk, dan bacaan yang jelas daripada 23 rakaat yang dilakukan dalam tempo yang tidak masuk akal.
Pilih masjid yang imamnya shalat dengan tenang, atau shalatlah di rumah jika itu memungkinkan Anda untuk lebih fokus. Ingat, esensi shalat Tarawih bukanlah seberapa banyak yang kita lakukan, tapi seberapa dalam kita terhubung dengan Sang Pencipta. Bahkan, jika Anda tidak hafal surat panjang, Anda bisa membaca Al-Qur’an secara langsung saat shalat untuk memperpanjang bacaan.
Mari kita renungkan. Apakah kita shalat karena kewajiban yang ingin cepat selesai, ataukah kita shalat karena kita merindukan saat-saat berdialog dengan Allah? Ramadan ini, jadikanlah shalat Anda bukan sekadar gerakan, tapi sebuah momen yang penuh makna dan ketenangan.
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya tentang agama islam seperti Sabar adalah Senjata Terbaik Seorang Muslim