Pendidikan yang Salah: Akar Masalah Bangsa dan Pentingnya Keteladanan di Era Digital

Pendidikan
Pendidikan

Di zaman di mana informasi bisa didapat hanya dengan satu ketukan jari, kita seringkali terjebak dalam ilusi bahwa anak-anak kita sudah “terdidik” hanya karena mereka sekolah. Namun, Muhammad Nuruddin dalam ceramahnya mengingatkan kita pada sebuah kenyataan pahit: “Indonesia kita ini enggak kekurangan orang pintar, tapi kekurangan orang jujur, berakhlak, bermoral, dan beriman.”

Pendidikan bukan sekadar transfer wawasan, melainkan pembentukan jiwa. Berikut adalah sari pati pemikiran beliau tentang mengapa pendidikan kita perlu dievaluasi ulang.

1. Pengetahuan yang Murah vs Keteladanan yang Langka

Saat ini, teknologi seperti AI (ChatGPT) dapat memberikan jawaban atas hampir semua pertanyaan intelektual dalam hitungan detik. Wawasan menjadi barang murah. Namun, ada satu hal yang tidak akan pernah bisa diberikan oleh internet, yaitu keteladanan.

“Yang paling tidak bisa dilakukan oleh internet itu apa? Keteladanan akhlak. Sekolah itu seharusnya difungsikan zaman sekarang ini lebih banyak untuk memberikan keteladanan, bukan lagi wawasan dan pengetahuan.”

Ilmu tanpa bingkai iman dan akhlak hanyalah bencana yang tertunda. Muhammad Nuruddin menyoroti fenomena koruptor sebagai bukti nyata bahwa kepintaran intelektual tanpa spiritualitas adalah malapetaka kemanusiaan.

2. Berhenti “Nyerocos”, Mulailah Mencontoh

Banyak orang tua merasa sudah mendidik hanya dengan memberikan nasihat lisan yang tak henti-henti. Padahal, anak-anak zaman sekarang cenderung muak dengan perintah yang tidak disertai bukti nyata.

Beliau berbagi kisah pribadi tentang ibundanya yang tidak pernah memaksa beliau untuk ibadah secara verbal, melainkan dengan tindakan.

“Ibu saya enggak pernah maksa saya salat Dhuha, tapi tiap hari kalau saya pulang liburan, jam 9 atau jam 10 beliau sudah tegak salat 12 rakaat. Apa efeknya? Sampai sekarang saya mendawamkan itu karena sering melihat ibu saya ibadah.”

Kuncinya sederhana: Anak-anak kita berubah bukan karena nasihat, tapi karena melihat cahaya ibadah dan akhlak di dalam rumah.

3. Doa: Senjata Pamungkas yang Sering Terlupakan

Dalam dunia pendidikan yang serba teknis, kita sering lupa bahwa hati manusia berada di tangan Tuhan. Pendidikan intelektual harus dibarengi dengan pembekalan spiritual melalui doa yang tulus.

“Mungkin anak kita sekarang belum sesuai harapan, tapi dengan doa yang terus-menerus di sepertiga malam, di dalam sujud… insyaallah suatu saat dia akan berubah.”

4. Mengenal Nabi: Kunci Manisnya Iman

Mengapa banyak orang merasa hambar dalam beragama? Jawabannya karena mereka beragama dengan logika, bukan dengan rasa cinta. Muhammad Nuruddin menekankan bahwa mengenal Sirah Nabawiyah (sejarah Nabi) adalah kunci untuk menyalakan cahaya dalam batin.

“Nabi Muhammad itu cahaya. Kalau cahaya itu masuk ke dalam batin Anda, sudah tidak usah ragu dengan iman. Cahaya tidak akan pernah bisa dikalahkan oleh kegelapan.”

Membangun ikatan emosional dengan Nabi Muhammad SAW adalah satu-satunya jalan untuk merasakan “manisnya iman” dan membentengi diri dari fitnah akhir zaman yang merusak mental generasi muda melalui layar handphone mereka.

Penutup

https://www.youtube.com/watch?v=uQCM7btD_KA

Menjadi pendidik—baik guru maupun orang tua—adalah profesi yang sangat mulia. Nabi Muhammad SAW menyebutkan bahwa seluruh penduduk langit dan bumi, bahkan semut di lubangnya hingga ikan paus di lautan, mendoakan kebaikan bagi mereka yang mengajarkan kebaikan.

Mari kita ubah mindset kita: Fokuslah pada pembekalan mental dan spiritual anak-anak kita. Jadikan diri kita “kurikulum berjalan” yang memancarkan akhlak, agar mereka tidak hanya menjadi sarjana yang pintar, tapi manusia yang bermanfaat dan diridai Allah SWT.

Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti Rahasia Joko Anwar Menghadapi Perfeksionisme dan “Delusi” Kesempurnaan

Read More :  Waspadai! Menurut Psikologi Inilah 7 Ciri Orang Baik Tapi Tidak Tulus. Yuk Simak!

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *