Diabetes dan penyakit yang berkaitan dengan gula telah menjadi momok kesehatan di Indonesia. Namun, seberapa jauh kita berani berkomitmen untuk menekan konsumsi gula harian? Sebuah tantangan puasa gula (no sugar challenge) tidak hanya menjanjikan berat badan turun, tetapi juga sebuah bonus yang jarang dibahas: ketenangan pikiran dan pengambilan keputusan yang lebih efektif.
Dalam sebuah diskusi, kami berbincang dengan seorang pegiat gaya hidup sehat, yang akrab disapa Kagus, tentang eksperimennya dalam menjalani hidup tanpa gula dan tips membangun kebiasaan positif jangka panjang.
Daftar Isi
Siasat Mental: Komitmen adalah Kunci, Bukan Hukuman

Tantangan menjaga pola makan seringkali terhambat oleh lingkungan sosial, seperti tawaran minuman manis saat berkumpul. Kagus menekankan bahwa solusinya bukan terletak pada penahanan diri semata, melainkan pada pembentukan peraturan pribadi.
Ia mencontohkan bagaimana intermittent fasting (IF) menjadi kebiasaan kecil yang memberinya rasa pencapaian.
“Punya peraturan itu tuh menurut aku ngebuat kita tuh lebih fokus,” ujar Kagus. “Kalau misalnya kita sudah punya peraturan bahwa ‘Oh gua enggak mulai makan gua [sampai] jam 12.00,’ berarti kan kalian punya default kalian, punya kebiasaan adalah no [menolak].”
Komitmen ini tidak hanya berdampak fisik, tetapi juga mental. Kagus mengakui bahwa menjalankan IF memberinya dorongan dopamin.
“Aku berasa harinya aku itu lebih produktif… seakan-akan aku tuh sudah melakukan sesuatu to-do list yang aku sudah centang,” katanya, menjelaskan efek psikologis dari mematuhi jadwal makan.
Peringatan: Bahaya No Sugar Withdrawal Symptoms

Terinspirasi oleh data miris bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan populasi yang tingkat kematiannya tinggi karena diabetes, Kagus memberanikan diri mencoba puasa gula total selama 30 hari.
Namun, ia menemukan bahwa jalan menuju bebas gula tidaklah mulus. Di awal tantangan, tubuhnya bereaksi keras terhadap perubahan ekstrem.
“Di 4 hari pertama… aku malah diare mencret,” ungkap Kagus. “Ternyata memang kalau misalkan [tubuh] menerima enggak ada gula, akan terjadi… yang namanya itu no sugar Withdrawal symptoms.”
Kagus memperingatkan agar tidak langsung mengambil langkah ekstrem seperti ia di awal, yang bahkan sempat menghindari nasi karena kandungan gulanya, sebab hal itu berpotensi membahayakan.
Hasil Wawancara: Keajaiban Energi yang Stabil
Di luar manfaat yang sudah umum diketahui seperti weight loss, temuan paling signifikan dari eksperimen 30 hari ini adalah perubahan drastis pada tingkat energi dan manajemen stres.
Kagus menjelaskan perbedaan antara energi yang didapat dari gula dan energi dari puasa gula:
-
Konsumsi Gula: “Kalau misal ada gula, aku tuh setiap kali konsumsi gula, deng naik, tapi habis turunnya cepat.”
-
Tanpa Gula: “Kalau misalkan enggak ada gula sama sekali, stabil nih. Mungkin enggak pernah naik seekstrem yang kayak misalkan kita konsumsi gula, tapi begitu… udah stabil aja terus, taknan.”
Energi yang stabil ini, alih-alih sugar rush yang fluktuatif, memiliki implikasi besar terhadap kualitas hidup. Tingkat stresnya menjadi lebih mudah dikelola (more manageable), dan yang paling penting: ia merasa menjadi individu yang lebih rasional.
“Untuk kita bisa mengambil keputusan yang efektif, enggak usah pakai gula… Kita bisa maintain energi kita di satu level dan itu yang paling penting,” pungkasnya.
Refleksi Budaya: Manis yang Menimbun Penyakit
Kagus juga menyoroti bagaimana gula telah mengakar dalam budaya kita, terkadang tanpa disadari melampaui batas aman. Batasan maksimal konsumsi gula harian adalah sekitar 6 sendok teh untuk wanita dan 9 sendok teh untuk pria.
Ia menceritakan anekdot ketika membawa teman dari Jepang ke Indonesia dan mereka terkejut melihat kebiasaan lokal minum teh dengan 5 sendok gula dalam satu cangkir.
“Di budaya Jepang kan mereka kalau minum teh itu kadang enggak ada gula kan,” katanya. “Kita membiasakan sesuatu yang kadang tanpa kita sadari itu menimbun penyakit di masa yang akan datang.”
Keputusan untuk mengurangi gula, seperti yang ditunjukkan Kagus, adalah langkah kecil yang dapat memutus rantai budaya manis yang berisiko ini. Tantangan bebas gula bukan hanya tentang diet; ini adalah tentang memenangkan kendali atas energi, fokus, dan masa depan kesehatan kita.
Kamu juga bisa membaca artikel menarik kami lainnya seperti 5 Waktu Krusial Minum Air : Strategi Cerdas Turunkan Berat Badan Lebih Cepat
Response (1)